Fakfak, Papua Barat – Di tengah kesibukan menjalankan tugas peradilan, keluarga besar Pengadilan Negeri (PN) Fakfak menyempatkan diri merawat tradisi leluhur melalui cara sederhana, yakni menikmati papeda bersama. Bukan sekadar makan bersama, kegiatan ini menjadi wujud kecintaan terhadap kuliner lokal sekaligus upaya mempererat kebersamaan antar aparat peradilan.
Pada Jumat (9/10/2026), setelah melaksanakan olahraga pagi, keluarga besar PN Fakfak berkumpul untuk menikmati papeda, makanan khas yang lekat dengan kehidupan masyarakat Papua dan Maluku, serta dikenal pula di sejumlah daerah di Sulawesi.
Papeda berbahan dasar sagu memiliki tekstur kenyal menyerupai gel atau pasta. Hidangan ini biasanya disantap bersama ikan kuah kuning yang kaya rempah, serta aneka pelengkap seperti sayur ganemo, yakni tumisan daun melinjo muda yang dipadukan dengan cabai merah dan bunga pepaya muda.
Bagi masyarakat setempat, papeda bukan hanya soal cita rasa. Hidangan ini juga menyimpan nilai kebersamaan dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam sejumlah kesempatan penting, papeda dan ikan kuah kuning menjadi sajian yang melengkapi kebersamaan keluarga.
Baca Juga: PN Fakfak Eksekusi Sebagian Objek yang Dikuasai Oleh Wakil Bupati Fakfak
Suasana makan bersama di PN Fakfak semakin istimewa karena papeda yang disajikan dibuat langsung oleh Agusthina Lenora Keda, yang akrab disapa Bu Anita. Panitera Muda Perdata PN Fakfak tersebut turut berbagi cerita mengenai cara menyajikan makanan tradisional ini.
Menurut Bu Anita, papeda yang telah matang dituangkan ke piring menggunakan alat menyerupai sumpit yang disebut gata-gata. Adonan kemudian diputar dengan cepat agar dapat tergulung dengan baik dan tidak terputus.
Setelah disajikan bersama kuah kuning, papeda siap dinikmati. Cara menyantapnya pun memiliki keunikan tersendiri, yakni dengan mengambil papeda menggunakan gata-gata, lalu menikmatinya bersama kuah ikan yang gurih dan segar.

Momen sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Tidak harus melalui perayaan besar, menjaga tradisi juga dapat dilakukan dengan mengenalkan makanan khas kepada generasi berikutnya dan terus menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi keluarga besar PN Fakfak, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk mempererat hubungan di luar rutinitas pekerjaan. Kebersamaan di meja makan menghadirkan suasana kekeluargaan, sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap kekayaan budaya daerah.
Melalui kegiatan tersebut, PN Fakfak menunjukkan bahwa pengabdian di lingkungan peradilan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap budaya lokal. Sebab, menjaga warisan leluhur bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga memastikan tradisi tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
Baca Juga: PN Fakfak Gandeng RRI, Informasi Layanan Peradilan Kini Mudah Diakses oleh Masyarakat
Dari semangkuk papeda dan sepiring ikan kuah kuning, keluarga besar PN Fakfak merawat lebih dari sekadar kuliner. Mereka turut menjaga identitas budaya dan memperkuat kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. (ees/zm)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI