Cari Berita

Momentum Maulid Nabi, Belajar dari Teladan Itsar Rasulullah SAW

Zidny Taqiyya - Dandapala Contributor 2026-08-24 18:35:09
Dok. Ist

Tanjung Priok, 12 Rabiul Awal 1448 H bertepatan dengan 25 Agustus 2026, umat Islam kembali menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebuah momentum yang bukan sekadar hari libur, melainkan pengingat akan hadirnya sosok teladan sepanjang zaman. Meski sebagian orang tidak merayakannya dengan ritual khusus, hampir semua sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah panutan, rujukan hidup bagi siapa pun yang beriman kepada Allah SWT.

Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra Nomor 20782) Kalimat sederhana ini menegaskan bahwa inti dari kehadiran beliau adalah akhlak. Maka, menjadikan beliau sebagai role model bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Az-Zariyat ayat 56 yang artinya, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." Ayat ini tegas menunjukkan bahwa ibadah adalah tujuan utama hidup, dan dunia hanyalah tempat singgah.

Baca Juga: Tebar Teladan Rasulullah, PN Maros Sulsel Rayakan Maulid Nabi

Dalam Islam, ibadah terbagi dua: mahdah (ritual murni seperti sholat dan puasa) dan ghairu mahdah (aktivitas duniawi yang bernilai ibadah, seperti bekerja atau bertetangga). 

Salah satu ibadah non-ritual yang paling indah adalah itsar secara bahasa, itsar berarti mengutamakan, melebihkan, mendahulukan. Dan secara istilah syariat, para ulama mendefinisikannya sebagai sikap mendahulukan kepentingan, hak, atau kebutuhan duniawi orang lain yang bermanfaat dimana justru di saat diri sendiri sebenarnya juga sangat membutuhkannya.

Kisah tentang itsar begitu banyak. Rasulullah sendiri, dalam keadaan lapar, pernah mendahulukan Ahli Shuffah untuk menikmati susu yang seharusnya bisa beliau minum. Bahkan dalam Perang Yarmuk, tiga sahabat besar Ikrimah bin Abu Jahal, Al-Harits bin Hisyam, dan Suhail bin Amr lebih memilih mendahulukan saudaranya untuk minum air, hingga akhirnya mereka semua syahid dalam keadaan haus. Kisah-kisah ini menunjukkan betapa itsar bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata yang lahir dari hati yang tulus.

Menariknya, Maulid tahun ini berdekatan dengan HUT RI dan HUT Mahkamah Agung RI ke-81. Sebuah momen yang seolah mengingatkan kita bahwa nilai itsar tidak hanya relevan dalam kehidupan pribadi, tetapi juga dalam dunia peradilan. Aparatur peradilan dituntut untuk mengedepankan kepentingan bersama, menjaga integritas, dan menghadirkan senyum bagi sesama rekan maupun pencari keadilan, sesuai kapasitas masing-masing baik sebagai pimpinan peradilan, personel teknis, maupun non-teknis.

Rasulullah bersabda: "Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat, dan amalan paling dicintai adalah memberi kegembiraan, meringankan beban, melunasi utang, atau menghilangkan kelaparan seorang muslim. Berjalan membantu keperluan saudara lebih utama daripada iktikaf sebulan di masjid ini (Nabawi). Menahan marah, menutup aib dan membuahkan ridha Allah, sementara membantu hajat saudara hingga selesai akan mengokohkan kaki di hari kiamat. Akhlak buruk merusak amal sebagaimana cuka merusak madu." (HR. Ibnu Abi Dunya, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' Nomor 176) Hadis ini menegaskan bahwa kebermanfaatan adalah ukuran utama manusia terbaik.

Sebagai penutup, ada satu kutipan dari kitab sejarah akhlak klasik, Ghidza' Al-Albab karya Imam Al-Safarini, yang terus terngiang di kepala penulis: "Barangsiapa memutuskan harapan orang yang mengharap kepadanya, maka Allah akan memutuskan harapannya pada hari kiamat, dan ia tidak akan masuk surga."

Baca Juga: Lentera Ramadhan, Teladan Nabi Muhammad SAW sebagai Hakim

Bukankah tujuan akhir kita semua adalah surga? Apalagi di lingkungan peradilan yang mengusung tema luhur ini. Pakar hukum tata negara Ferry Amsari (2024) pernah mengingatkan kita semua bahwa mungkin eksekutif boleh kacau, mungkin legislatif boleh kacau, tetapi yudikatif tidak boleh. Begitu yudikatif tidak lurus, runtuhlah sebuah negara.

Kita tentu tidak menginginkan keruntuhan itu terjadi. Maka keadilan harus lahir dari dalam lembaga kita sendiri, dari cara kita memperlakukan sesama aparatur peradilan hingga para pencari keadilan. AA Gym (1998) menyebutnya sebagai 3M. Mulai dari Diri Sendiri, Mulai dari Hal yang Kecil, dan Mulai Saat Ini Juga. Nilai itsar bisa diwujudkan lewat tindakan sederhana seperti tidak menunda kebaikan. Karena menunda sesuatu yang baik bisa jadi menyakiti orang yang menunggu. (ar/zm/wi) 

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…