Cari Berita

Narsum KOMPAS : Media Sosial Sarana Bangun Public Trust Lembaga Peradilan

Yulianti - Dandapala Contributor 2026-06-25 16:15:12
Dok. Ist

Hari kedua Workshop dan Koordinasi Media Direktorat Jenderal Badan Peradilan Umum (Ditjen Badilum) kembali menghadirkan narasumber yang sangat informatif yaitu Content Marketing Manager Kompas.com, Luthfi Kurniawan mengenai strategi komunikasi media, hari Kamis, (25/06/2026).

“Trust lebih penting dari reach, konten ramai tapi multitafsir bisa menambah risiko, yang dikejar Lembaga peradilan adalah keyakinan publik, bukan keramaian”, kata Luthfi Kurniawan menyampaikan materi.

Luthfi juga menekankan pentingnya sebuah etika, etika bukan sebuah beban dan memperlambat, melainkan rem untuk menjaga lembaga tetap pada jalurnya, mencegah blunder dan hak jawab. Etika akan menciptakan akurasi, independensi, keberimbangan, itikad baik dan atribusi.

Baca Juga: Belajar Best Practice Alur Pemberitaan dari Kompas.com

Ada beberapa poin yang harus diketahui dan perbedaan antara fakta, klaim, opini dan putusan, jangan sampai berita yang merupakan sebuah klaim namun kita menyatakan seakan itu sebuah fakta, ataupun sebaliknya.

Keterbukaan informasi publik yang merupakan kewenangan dari PPID pun menjadi salah satu yang perlu kita ketahui bahwa terbuka bukan berarti semua dibuka, ada informasi yang disediakan setiap saat, berkala, serta merta dan dikecualikan.

Hal-Hal yang menjadi alasan kuat hal tersebut layak jadi berita yakni aktualitas, dampak, kedekatan, ketokohan, konflik, keunikan, human interest, signifikansi.

“Putusan, inovasi layanan, data perkara yang tren, program transparansi, akuntabilitas dan akses keadilan serta cerita pelayanan”, ungkap Luthfi menyarankan konteks berita dari llembaga peradilan.

Terkait berita Luthfi menjelaskan bahwa judul yang aman dan tetap menarik, jangan menulis judul dari klaim emosional, sedangkan untuk opini boleh tajam namun jangan menghakimi, perhatikan argumen, bukti, atribusi, fairness dan risiko hukum.

Media sosialpun menjadi topik yang menarik dalam sesi kali ini, konten digital diharapkan membantu publik, yang menjadi masalah di media sosial untuk platform berita bukan karena kurang posting namun masalah utamanya yaitu apakah berita itu bisa memberikan jawaban kebutuhan publik.

Dandapala sendiri memiliki enam pembaca dengan enam kebutuhan seperti pencari keadilan, advokat, media, mahasiswa hukum, internal, publik umum. Jadi Dandapala seharusnya menyajikan kebutuhan dari masing-masing pembacanya.

Gunakan media sosial sesuai untuk menyampaikan berita misalnya podcast melalui youtube, teaser carousel, clipper, tiktok, website, instragram. Gunakan media sosial untuk branding dari peradilan kepada masyarakat.

“Gunakan hook dibeberapa detik awal, misalnya 3 detik agar penonton tertarik melihat berita kita, dan sampaikan jadwal tayang, agar mereka menunggu video selanjutnya”, jelas Luthfi menyarankan.

Baca Juga: Integritas, Pondasi Meraih Kembali Trust

Teknik visual hierarchy, untuk informasi berupa tulisan di gambar sebaiknya seperti piramida terbalik, tulisan yang besar dan penting itu diletakan diawal, agar pembaca lebih mudah mengetahui dan mendapatkan informasi.

Konten yang baik mengurangi kebingungan publik, berita harus useful, clear, safe, searchable, shareable yang akan menghasilkan public trust. (yl/zm/ldr)

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…