Palembang, Sumatera Selatan – Ada kalanya sebuah perjalanan harus singgah sejenak untuk kemudian melangkah penuh percaya diri. Selama 12 bulan terakhir, Pengadilan Negeri (PN) Palembang Kelas IA Khusus pindah sementara di bangunan bersejarah yakni gedung Museum Tekstil dalam memberikan pelayanan bagi pencari keadilan dan telah menorehkan sebuah sejarah yang mungkin hanya terjadi sekali dalam perjalanan panjang lembaga peradilan di Sumatera Selatan.
“Mulai Senin (27/07/2026), seluruh pelayanan dan aktivitas PN Palembang resmi kembali dilaksanakan di gedung utama PN Palembang yang beralamat di Jalan Kapten A. Rivai Palembang, setelah melalui proses renovasi menyeluruh selama kurang lebih 14 bulan”, ucap bunyi press release PN Palembang.
Renovasi tersebut merupakan bagian dari komitmen Mahkamah Agung untuk menghadirkan sarana pelayanan peradilan yang lebih representatif, modern, aman, nyaman, serta mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat pencari keadilan.
Baca Juga: Salawat Iringi Dimulainya Pembangunan Gedung PN Palembang
“Kepindahan kembali ke gedung utama bukan sekadar perpindahan fisik sebuah kantor, melainkan menjadi simbol dimulainya babak baru pelayanan peradilan yang lebih baik lagi”, ucap Ketua PN Palembang, I Nyoman Wiguna.
Kami memohon doa dan dukungan seluruh masyarakat Sumatera Selatan, khususnya masyarakat Kota Palembang, agar proses perpindahan ini berjalan dengan lancar. Semoga gedung yang telah selesai direnovasi ini benar-benar menjadi rumah keadilan yang memberikan rasa nyaman, kepastian hukum, serta pelayanan prima bagi seluruh pencari keadilan, lanjutnya.
Menurut I Nyoman Wiguna, pelayanan kepada masyarakat akan mulai dilaksanakan secara penuh di gedung utama pada Senin (27/07/2026), tanpa mengurangi kualitas pelayanan sebagaimana yang telah diberikan selama masa di gedung sementara.
Selama proses renovasi berlangsung, seluruh aktivitas pelayanan PN Palembang dipindahkan ke Museum Tekstil Palembang, sebuah bangunan cagar budaya yang telah berdiri lebih dari 108 tahun, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kota Palembang dari masa kolonial hingga Indonesia merdeka.
Di tempat yang dahulu menyimpan tenunan songket, kain-kain warisan leluhur, serta jejak peradaban Palembang, selama dua belas bulan terakhir justru lahir ribuan lembar putusan pengadilan, ribuan perkara disidangkan, dan ribuan harapan masyarakat akan keadilan dilayani tanpa pernah berhenti.
Setiap pagi, halaman museum yang selama puluhan tahun identik dengan ketenangan sejarah berubah menjadi tempat para hakim, aparatur pengadilan, advokat, jaksa, aparat kepolisian, serta masyarakat bertemu dalam satu tujuan yang sama: menghadirkan keadilan.
Ruang-ruang museum yang sebelumnya menjadi tempat edukasi sejarah disulap menjadi ruang sidang, ruang mediasi, ruang pelayanan terpadu satu pintu (PTSP), ruang Pos Bantuan Hukum (Posbakum), hingga ruang tunggu para pencari keadilan.
Semua dilakukan dengan penuh kehati-hatian tanpa mengurangi penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah bangunan tersebut sebagai aset budaya milik masyarakat Sumatera Selatan.
“Di balik keterbatasan ruang, seluruh hakim dan aparatur Pengadilan Negeri Palembang tetap bekerja dengan semangat dan menjaga marwah pengadilan dengan tetap menjaga integritas”, ujar Hakim yang sebelumnya bertugas di PN Tangerang ini.
Karena sesungguhnya, keadilan tidak pernah ditentukan oleh megahnya bangunan, tetapi oleh integritas orang-orang yang mengabdikan dirinya di dalamnya.
I Nyoman Wiguna juga menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang telah meminjamkan sekaligus memfasilitasi penggunaan Gedung Museum Tekstil sebagai kantor sementara selama kurang lebih empat belas bulan.
Kepercayaan tersebut merupakan bentuk sinergi yang sangat berarti antara Pemerintah Daerah dan lembaga peradilan dalam memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan tanpa terhenti meskipun gedung utama sedang menjalani renovasi total.
"Tanpa dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, proses pelayanan kepada masyarakat tentu tidak akan berjalan sebaik yang telah kita lalui bersama. Untuk itu kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan atas kerja sama, perhatian, serta dukungan yang luar biasa selama masa transisi ini," jelasnya.
Kini, setelah empat belas bulan proses renovasi diselesaikan, PN Palembang kembali membuka lembaran baru. Gedung boleh berubah menjadi lebih megah. Fasilitas boleh menjadi lebih modern.
Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah komitmen seluruh insan Pengadilan Negeri Palembang untuk memberikan pelayanan yang cepat, sederhana, transparan, profesional, berintegritas, dan berkeadilan.
Perpindahan ini bukanlah garis akhir sebuah perjalanan. “Hal ini justru menjadi langkah awal untuk menghadirkan pelayanan peradilan yang semakin berkualitas sejalan dengan semangat reformasi birokrasi, pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), serta penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP)”, ujar Ketua PN Palembang.
Sementara itu Koordinator Juru Bicara PN Palembang, Chandra Gautama, mengajak masyarakat Palembang dan sekitarnya di penghujung perjalanan perpindahan ini, untuk bersama-sama mendoakan agar proses perpindahan berjalan lancar dan seluruh pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung tanpa hambatan.
"Kami percaya bahwa gedung hanyalah tempat berpijak, sedangkan keadilan adalah amanah yang harus terus dijaga. Semoga setiap langkah yang kami tempuh di gedung yang baru ini menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan peradilan yang semakin dipercaya masyarakat”, ujarnya.
Ia memohon doa dari seluruh masyarakat agar kami senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, dan integritas dalam menegakkan hukum dan keadilan.
Baca Juga: Apel Perdana Tandai Pelayanan PN Palembang di Gedung Museum Tekstil
Kini, gedung utama yang telah berdiri kembali dengan wajah baru di Jalan Kapten A. Rivai akan melanjutkan cerita berikutnya. Cerita tentang pelayanan yang lebih baik. Tentang pengabdian yang tidak pernah berhenti. Dan tentang keadilan yang selalu menemukan jalannya bagi setiap warga negara.
"Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah di mana keadilan ditegakkan, melainkan bagaimana keadilan itu dihadirkan dengan hati, integritas, dan pengabdian," Pungkas Chandra Gautama (end/al/ldr)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI