Namanya
singkat; Budi. Tak ada seorangpun di kantor kami yang mengetahui nama
panjangnya. Tak ada pula yang peduli, apakah Budi itu nama samaran, nama
bawaan, atau sekadar panggilan untuk memudahkan penyebutan. Budi ya Budi.
Titik.
Musabab
dia datang, tinggal, menetap dan menjadi “bagian” dari Pengadilan Negeri Maros
pun tak begitu jelas. Tapi mayoritas cerita menyebutkan, Budi adalah mantan
kuli yang membangun kantor dan menolak dibayar, lalu memilih kompensasi agar
diizinkan tinggal di kantor.
Sebagai
imbalan bisa tinggal di area kantor, sejak puluhan tahun lalu sampai hari ini,
tugas Budi sederhana: menyapu seluruh halaman kantor, membersihkan kolam, dan
mengangkut sampah serta yang berserakan pada semua area tempat sampah.
Kelihatan sederhana tapi bila dipikirkan kembali, terlebih hal ini dilakukan
seorang diri, rutinitas ini lumayan melelahkan.
Baca Juga: Melampaui Logika Normatif, Peran Sejarah Hukum Mencegah Yuris Peradilan Pajak Menjadi Tukang Hukum
Tidur
dan makannya pun tak menentu, tapi karena Budi rajin ketika disuruh ini dan
itu, ada juga yang memberinya uang ala kadarnya. Bagi Budi, uang dua ribu, lima
ribu atau bahkan sepuluh ribu -yang nyaris tak ada artinya saat ini- adalah
hadiah besar meski tentu saja dia tidak akan menolak bila diberikan uang biru
atau merah.
Meski
Budi adalah “tenaga sukarela” yang tugasnya menyapu seluruh halaman kantor, Budi
acapkali dicap kurang waras karena kebiasaanya tertawa sendirian dan kecintaan
berlebihannya terhadap uang. Lucunya -atau anehnya-, dia paham isu nasional dan
internasional yang menjadi headline berita terbaru.
Jangan
tanyakan padanya siapa presiden Iran, dia akan menjawab dengan fasih. Bahkan
Tanjung Verde, negara sensasional di piala dunia pun dia paham letaknya dimana.
Dan sependek umur saya, belum pernah sekalipun saya melihat orang kurang waras
begitu menyukai musik klasik ala Beethoven, Mozart atau Gluck.
Perdebatan
tentang ketidak-warasan Budi sering menjadi headline saat di kantin. Pro
waras mengatakan Budi adalah manusia setengah dewa yang pekerjaannya
terstruktur, sistematis dan masif. Bayangkan, area halaman kantor seluas itu
dibersihkannya sampai tuntas. Seorang diri.
Mereka
yang pro “kurang waras” mengatakan bahwa Budi ini jelas tidak, atau setidaknya
kurang waras. kalau Anda kebetulan ada di kantor saat lembur tengah malam, maka
jangan kaget tiba-tiba mendengar tawa terbahak bahak di belakang, itulah tawa
Budi; mengherankan sekaligus menakutkan di saat bersamaan.
Sisi
baiknya -kata mereka- Budi adalah pencium aroma surga, karena konon katanya,
mereka yang “agak gila” -Maafkanlah saya menyebut istilah ini-, kesalahannya
tak akan ditimbang di hari akhir.
Tapi
sampai hari ini, perdebatan itu pun tak kunjung menemui konklusi. Budi pun tak
perduli, dia tetap bangun pukul lima pagi dan menjalankan rutinitasnya setiap
hari. Di usia yang menginjak kepala lima, Budi adalah contoh bagaimana orang
bisa setia pada pekerjaannya, nyaris tanpa syarat apapun.
Logika
waras atau warasnya logika.
Bila
anda memperhatikan judul di tulisan ini. Kedua kata itu sebenarnya adalah contradictio
interminis. Bisakah ketidak-warasan menjangkiti logika padahal logika
adalah puncak akal sehat manusia ? bukankah mustahil logika menjadi tidak waras
padahal akarnya adalah pikiran paling waras ? belum tentu.
Di
zaman Now, semuanya serba presentatif dan repetitif. Apa yang nampak itulah
yang nyata. Hidup hari ini adalah tentang media sosial dan mensosialisasikan
media. Ironisnya, semua itu berjalan dalam pengulangan bertubi-tubi yang tidak
kita sadari sekaligus awam kita pahami. Padahal sejarah kemanusiaan seringkali
menyindir kita, yang selalu pongah pada logika; akal adalah segalanya.
Budi
adalah contoh kecil bagaimana logika seringkali naif dibawah kenyataan kerasnya
hidup. Bagaimana logika menjelaskan seseorang yang otaknya “agak agak”, bisa
bangun pukul lima pagi, mulai mengangkut sampah, menyapu halaman, di rentang
waktu yang sama, jarang terlambat dan telah berlangsung puluhan tahun ?
“Saya tidak merasakan hujan atau panas untuk
mengangkut sampah dan menyapu halaman. Saya hanya ingin tidur di malam hari,
sekali lagi untuk menyaksikan dunia melalui internet” barangkali itu kemewahan
pikiran seorang Budi.
Kita
barangkali menyebut tingkah seperti ini lahir karena kebiasaan atau ketiadaan
pilihan dalam hidup, tapi lagi lagi sependek ingatan saya, kebiasaan hanya
menyapa mereka yang otaknya terkondisikan oleh pikiran, harapan dan tujuan.
Dalam konteks ini pula kadang logika bertindak diluar kewarasan.
Pada
akhirnya, tidaklah penting apakah seorang manusia agak waras atau agak gila.
Tapi satu hal penting, mereka yang masih bisa bekerja adalah mereka yang punya
akal sehat. Silahkan anda gila dengan bekerja, tapi jangan pekerjaan yang
membuat anda gila.
Suatu
hari nanti Budi akan mati. Barangkali dia tidak akan dikenang seperti para
aparatur peradilan lainnya atas dedikasinya pada institusi. Tidak, Budi hanya
akan pergi sebagai orang biasa. Tapi Budi adalah seseorang yang melakukan hal
kecil setiap hari, setiap hari, kecil saja, tapi sebenarnya punya arti ketika
kita bicara akumulasi.
Baca Juga: Paradoks Formulasi Pidana Mati Dalam KUHP Nasional, Dapatkah Menjerakan Pelaku?
Anggaplah
dia kurang waras, anggaplah dia spesies manusia yang tergila gila pada uang,
atau anggap pula dia adalah anomali orang gila. Tapi, sesederhana apapun, dia
telah menunjukkan akal sehat dalam bekerja dan -diatas segalanya- Budi akan
tetap tertawa, tak perduli apakah tawa itu menggambarkan kesenangan atau
kesedihan. Persetan apakah tawa itu adalah tentang sakit hati atau jatuh hati. Lalu, Apa kabar bagi KITA yang selalu merasa diri
kita WARAS!? (ldr/wi/zm)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI