Cari Berita

Intermezzo: Budi dan Paradoks Logika

Muhammad Tasnim - Dandapala Contributor 2026-08-04 07:15:54
Dok. Ist

Namanya singkat; Budi. Tak ada seorangpun di kantor kami yang mengetahui nama panjangnya. Tak ada pula yang peduli, apakah Budi itu nama samaran, nama bawaan, atau sekadar panggilan untuk memudahkan penyebutan. Budi ya Budi. Titik.

Musabab dia datang, tinggal, menetap dan menjadi “bagian” dari Pengadilan Negeri Maros pun tak begitu jelas. Tapi mayoritas cerita menyebutkan, Budi adalah mantan kuli yang membangun kantor dan menolak dibayar, lalu memilih kompensasi agar diizinkan tinggal di kantor.

Sebagai imbalan bisa tinggal di area kantor, sejak puluhan tahun lalu sampai hari ini, tugas Budi sederhana: menyapu seluruh halaman kantor, membersihkan kolam, dan mengangkut sampah serta yang berserakan pada semua area tempat sampah. Kelihatan sederhana tapi bila dipikirkan kembali, terlebih hal ini dilakukan seorang diri, rutinitas ini lumayan melelahkan.

Baca Juga: Melampaui Logika Normatif, Peran Sejarah Hukum Mencegah Yuris Peradilan Pajak Menjadi Tukang Hukum

Tidur dan makannya pun tak menentu, tapi karena Budi rajin ketika disuruh ini dan itu, ada juga yang memberinya uang ala kadarnya. Bagi Budi, uang dua ribu, lima ribu atau bahkan sepuluh ribu -yang nyaris tak ada artinya saat ini- adalah hadiah besar meski tentu saja dia tidak akan menolak bila diberikan uang biru atau merah.

Meski Budi adalah “tenaga sukarela” yang tugasnya menyapu seluruh halaman kantor, Budi acapkali dicap kurang waras karena kebiasaanya tertawa sendirian dan kecintaan berlebihannya terhadap uang. Lucunya -atau anehnya-, dia paham isu nasional dan internasional yang menjadi headline berita terbaru.

Jangan tanyakan padanya siapa presiden Iran, dia akan menjawab dengan fasih. Bahkan Tanjung Verde, negara sensasional di piala dunia pun dia paham letaknya dimana. Dan sependek umur saya, belum pernah sekalipun saya melihat orang kurang waras begitu menyukai musik klasik ala Beethoven, Mozart atau Gluck.

Perdebatan tentang ketidak-warasan Budi sering menjadi headline saat di kantin. Pro waras mengatakan Budi adalah manusia setengah dewa yang pekerjaannya terstruktur, sistematis dan masif. Bayangkan, area halaman kantor seluas itu dibersihkannya sampai tuntas. Seorang diri.

Mereka yang pro “kurang waras” mengatakan bahwa Budi ini jelas tidak, atau setidaknya kurang waras. kalau Anda kebetulan ada di kantor saat lembur tengah malam, maka jangan kaget tiba-tiba mendengar tawa terbahak bahak di belakang, itulah tawa Budi; mengherankan sekaligus menakutkan di saat bersamaan.

Sisi baiknya -kata mereka- Budi adalah pencium aroma surga, karena konon katanya, mereka yang “agak gila” -Maafkanlah saya menyebut istilah ini-, kesalahannya tak akan ditimbang di hari akhir.

Tapi sampai hari ini, perdebatan itu pun tak kunjung menemui konklusi. Budi pun tak perduli, dia tetap bangun pukul lima pagi dan menjalankan rutinitasnya setiap hari. Di usia yang menginjak kepala lima, Budi adalah contoh bagaimana orang bisa setia pada pekerjaannya, nyaris tanpa syarat apapun.  

Logika waras atau warasnya logika.

Bila anda memperhatikan judul di tulisan ini. Kedua kata itu sebenarnya adalah contradictio interminis. Bisakah ketidak-warasan menjangkiti logika padahal logika adalah puncak akal sehat manusia ? bukankah mustahil logika menjadi tidak waras padahal akarnya adalah pikiran paling waras ? belum tentu.

Di zaman Now, semuanya serba presentatif dan repetitif. Apa yang nampak itulah yang nyata. Hidup hari ini adalah tentang media sosial dan mensosialisasikan media. Ironisnya, semua itu berjalan dalam pengulangan bertubi-tubi yang tidak kita sadari sekaligus awam kita pahami. Padahal sejarah kemanusiaan seringkali menyindir kita, yang selalu pongah pada logika; akal adalah segalanya.

Budi adalah contoh kecil bagaimana logika seringkali naif dibawah kenyataan kerasnya hidup. Bagaimana logika menjelaskan seseorang yang otaknya “agak agak”, bisa bangun pukul lima pagi, mulai mengangkut sampah, menyapu halaman, di rentang waktu yang sama, jarang terlambat dan telah berlangsung puluhan tahun ?

 “Saya tidak merasakan hujan atau panas untuk mengangkut sampah dan menyapu halaman. Saya hanya ingin tidur di malam hari, sekali lagi untuk menyaksikan dunia melalui internet” barangkali itu kemewahan pikiran seorang Budi.

Kita barangkali menyebut tingkah seperti ini lahir karena kebiasaan atau ketiadaan pilihan dalam hidup, tapi lagi lagi sependek ingatan saya, kebiasaan hanya menyapa mereka yang otaknya terkondisikan oleh pikiran, harapan dan tujuan. Dalam konteks ini pula kadang logika bertindak diluar kewarasan.

Pada akhirnya, tidaklah penting apakah seorang manusia agak waras atau agak gila. Tapi satu hal penting, mereka yang masih bisa bekerja adalah mereka yang punya akal sehat. Silahkan anda gila dengan bekerja, tapi jangan pekerjaan yang membuat anda gila.

Suatu hari nanti Budi akan mati. Barangkali dia tidak akan dikenang seperti para aparatur peradilan lainnya atas dedikasinya pada institusi. Tidak, Budi hanya akan pergi sebagai orang biasa. Tapi Budi adalah seseorang yang melakukan hal kecil setiap hari, setiap hari, kecil saja, tapi sebenarnya punya arti ketika kita bicara akumulasi.

Baca Juga: Paradoks Formulasi Pidana Mati Dalam KUHP Nasional, Dapatkah Menjerakan Pelaku?

Anggaplah dia kurang waras, anggaplah dia spesies manusia yang tergila gila pada uang, atau anggap pula dia adalah anomali orang gila. Tapi, sesederhana apapun, dia telah menunjukkan akal sehat dalam bekerja dan -diatas segalanya- Budi akan tetap tertawa, tak perduli apakah tawa itu menggambarkan kesenangan atau kesedihan. Persetan apakah tawa itu adalah tentang sakit hati atau jatuh hati. Lalu, Apa kabar bagi KITA yang selalu merasa diri kita WARAS!? (ldr/wi/zm)

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…