Cari Berita

Ted Bundy: Pembunuh Berantai yang Membela Dirinya Sendiri di Persidangan

Bintoro Wisnu Prasojo - Dandapala Contributor
2026-10-24 08:00:32
Dok. Ist.

Miami, musim panas 1979. Di sebuah ruang sidang Dade County, seorang terdakwa berjas dan berdasi berdiri dari kursinya, lalu mengajukan pertanyaan kepada saksi. Sikapnya tenang, nyaris seperti pengacara yang sudah lama beracara.

Ia bukan pengacara. Ia Theodore Robert Bundy, terdakwa pembunuhan dua mahasiswi Florida State University. Di persidangan itu, ia memilih ikut membela dirinya sendiri.

Sidang tersebut disiarkan televisi ke berbagai penjuru Amerika Serikat. Pemirsa di rumah menyaksikan pemandangan yang ganjil: orang yang didakwa membunuh justru tampil sebagai salah satu sosok paling percaya diri di ruang sidang.

Baca Juga: Pembelaan Diri (Noodweer) Perspektif KUHP dan Yurisprudensi

Wajah yang Tak Pernah Dicurigai

Bundy lahir dengan nama Theodore Robert Cowell pada 24 November 1946 di Burlington, Vermont, dari seorang ibu yang belum menikah. Demi menghindari aib, kakek-neneknya membesarkannya sebagai anak mereka sendiri. Keluarga, tetangga, bahkan Ted kecil diberi tahu bahwa ibunya adalah kakak perempuannya.

Ia tumbuh di Tacoma, Washington, dan kelak memakai nama belakang ayah tirinya, Johnny Bundy. Setelah sempat putus kuliah, ia kembali ke University of Washington dan lulus dari jurusan psikologi pada 1972.

Riwayatnya sesudah itu nyaris tanpa cela. Ia bekerja di pusat layanan krisis bunuh diri di Seattle, ikut tim kampanye pemilihan ulang Gubernur Washington Daniel J. Evans, lalu duduk di komite penasihat pencegahan kejahatan. Di sana ia bahkan menulis pamflet tentang pencegahan pemerkosaan bagi perempuan.

Rekan kerjanya di pusat krisis itu, Ann Rule, belakangan menulis buku The Stranger Beside Me. Rule mengaku tidak melihat sesuatu yang janggal pada Bundy saat itu. Baginya, Bundy adalah lelaki yang baik, penuh perhatian, dan berempati. Pada 1973, lelaki yang sama diterima di sekolah hukum.

Lompatan dari Jendela Perpustakaan Hukum

Sejak 1974, perempuan-perempuan muda menghilang satu per satu di Washington dan Oregon, kemudian di Utah, Colorado, dan Idaho. Para saksi berulang kali menyebut sosok lelaki tampan dengan lengan dibebat atau kaki digips. Ia meminta tolong dibantu membawa barang ke Volkswagen Kumbang miliknya.

Bundy pertama kali ditangkap pada 16 Agustus 1975 di pinggiran Salt Lake City, Utah. Di mobilnya, polisi menemukan topeng ski, linggis, borgol, tali, dan pemecah es. Ia kemudian dikenali oleh Carol DaRonch, perempuan 18 tahun yang lolos dari mobilnya pada November 1974 setelah ditipu oleh lelaki yang mengaku polisi.

Pada Februari 1976 ia diadili tanpa juri. Hakim Stewart Hanson menyatakannya bersalah atas penculikan, dan ia dijatuhi pidana penjara 1 sampai 15 tahun.

Oktober 1976, Colorado mendakwanya atas pembunuhan Caryn Campbell, perawat berusia 23 tahun yang hilang di sebuah penginapan di Snowmass. Di Colorado, Bundy memilih menjadi pengacara bagi dirinya sendiri. Status itu memberinya keleluasaan yang tidak dimiliki terdakwa lain. Ia tidak diborgol di ruang sidang, berhak memeriksa berkas perkara, dan boleh memakai perpustakaan hukum.

Pada 7 Juni 1977, saat jeda sidang pendahuluan di gedung pengadilan Aspen, ia minta izin ke perpustakaan hukum untuk mempelajari perkaranya. Terlindung rak buku dari pandangan petugas, ia membuka jendela dan melompat dari lantai dua. Beberapa hari kemudian ia tertangkap lagi. Di mobil curian yang dikendarainya ada peta pegunungan sekitar Aspen, peta yang dipakai jaksa untuk menunjukkan lokasi jenazah Campbell dan yang ia peroleh justru sebagai haknya selaku pembela.

Pelarian kedua terjadi pada 30 Desember 1977. Berminggu-minggu ia menggergaji lubang di langit-langit sel penjara Glenwood Springs, sambil menurunkan berat badan agar muat melewatinya. Ia lalu berpindah dari Chicago ke Ann Arbor, ke Atlanta, dan tiba di Tallahassee, Florida, pada 8 Januari 1978.

Lima Belas Menit di Chi Omega

Seminggu setelah tiba, dini hari 15 Januari 1978, Bundy masuk ke rumah sorority Chi Omega di Florida State University lewat pintu belakang yang kuncinya rusak. Margaret Bowman (21) dan Lisa Levy (20) tewas. Kathy Kleiner dan Karen Chandler terluka parah, tetapi selamat.

Penyidik memperkirakan keempat serangan itu berlangsung kurang dari 15 menit. Lebih dari 30 orang berada dalam jarak dengar, dan tidak seorang pun mendengar apa-apa. Malam itu juga, delapan blok dari sana, Bundy menyerang mahasiswi lain, Cheryl Thomas, yang selamat dengan cedera permanen.

Pada 9 Februari 1978, Kimberly Leach, siswi 12 tahun, hilang dari sekolahnya di Lake City. Sekitar sepekan kemudian, seorang polisi di Pensacola menghentikan Volkswagen Kumbang curian yang dikemudikan Bundy. Bundy sempat melawan dan mencoba kabur sebelum akhirnya diringkus. Dalam perjalanan ke tahanan, ia berkata kepada polisi itu bahwa ia berharap ditembak mati saja.

Jenazah Kimberly ditemukan pada April 1978. Kali ini, tidak ada lagi jendela yang bisa ia lompati.

Terdakwa yang Menjadi Pengacara

Sebelum sidang dimulai, sebenarnya sempat ada jalan keluar. Tim pembela dan jaksa menyusun kesepakatan: Bundy mengaku bersalah atas pembunuhan Levy, Bowman, dan Leach, dengan imbalan pidana penjara 75 tahun tanpa hukuman mati. Namun saat tiba waktunya mengucapkan pengakuan di depan pengadilan, ia membatalkannya. Menurut salah satu anggota tim pembelanya, Bundy tak sanggup berdiri di hadapan dunia dan mengakui dirinya bersalah.

Karena pemberitaan di Tallahassee terlalu gencar, perkara dipindahkan ke Miami. Sidang dibuka pada 25 Juni 1979 di Circuit Court Dade County, dipimpin Hakim Edward D. Cowart, seorang mantan polisi Miami. Sekitar 250 wartawan dari lima benua datang meliput. Persidangan ini tercatat sebagai yang pertama di Amerika Serikat yang disiarkan televisi secara nasional.

Pengadilan menunjuk lima pengacara untuk Bundy. Ia tetap bersikeras memegang kendali. Ia bertindak sebagai co-counsel, memeriksa silang saksi, dan ikut menentukan arah pembelaan. Hakim Cowart berkali-kali mengingatkannya dengan pepatah lama di dunia hukum, bahwa pengacara yang membela dirinya sendiri sedang menjadikan orang bodoh sebagai kliennya.

Peringatan itu tidak berlebihan. Saat memeriksa polisi kampus yang pertama tiba di lokasi, Bundy justru mendesak saksi menggambarkan kondisi tempat kejadian secara rinci. Sejumlah catatan sejarah persidangan menilai langkah itu ceroboh, sebab yang tertinggal di benak juri hanyalah kengerian kejahatan itu sendiri.

Bukti yang paling memberatkan datang dari dua arah. Nita Neary, anggota sorority, bersaksi melihat Bundy keluar dari rumah itu malam kejadian. Lalu ada bekas gigitan pada tubuh Lisa Levy, yang oleh dua ahli odontologi forensik, Richard Souviron dan Lowell Levine, dicocokkan dengan cetakan gigi Bundy. Menurut laporan The Miami News saat itu, ini pertama kalinya bukti bekas gigitan diterima di persidangan Florida.

Kefasihan bicara ternyata tidak bisa menghapus bukti.

“Anda Akan Menjadi Pengacara yang Baik”

Juri bermusyawarah kurang dari tujuh jam. Bundy dinyatakan bersalah atas pembunuhan Bowman dan Levy, tiga percobaan pembunuhan terhadap Kleiner, Chandler, dan Thomas, serta dua dakwaan memasuki bangunan secara melawan hukum (burglary).

Sebelum pidana dijatuhkan, Bundy masih sempat bicara. Ia menyatakan tidak masuk akal baginya memohon belas kasihan atas perbuatan yang, menurutnya, tidak ia lakukan.

Pada 31 Juli 1979, mengikuti rekomendasi juri, Hakim Cowart menjatuhkan dua pidana mati. Ia menilai kedua pembunuhan itu keji dan kejam, menyebutnya extremely wicked, shockingly evil, vile. Empat dekade kemudian, frasa itu dipakai sebagai judul film tentang Bundy yang dirilis pada 2019.

Setelah vonis dibacakan, Cowart menambahkan kata-kata yang kelak terus dikutip. Ia menyebut betapa tragisnya menyaksikan kemanusiaan terbuang sia-sia di ruang sidangnya. “Anda akan menjadi pengacara yang baik,” katanya, “tetapi Anda memilih jalan lain, kawan.” Ia menutup dengan pesan singkat: jaga diri baik-baik, anak muda.

Akhir di Kursi Listrik

Enam bulan kemudian, di Orlando, Bundy diadili atas pembunuhan Kimberly Leach. Seorang saksi mata melihatnya menuntun Kimberly dari halaman sekolah, dan serat pakaian di mobil serta pada tubuh korban cocok dengan jaket yang dipakai Bundy saat ditangkap. Pada Februari 1980, ia divonis mati untuk ketiga kalinya.

Sidang Orlando juga mencatat satu adegan yang sulit dipercaya. Pada tahap penentuan pidana, saat memeriksa Carole Ann Boone sebagai saksi meringankan, Bundy melamarnya. Boone menerima, dan Bundy menyatakan di hadapan pengadilan bahwa mereka kini resmi menikah. Ia memanfaatkan ketentuan hukum Florida yang jarang dikenal, yang mengakui pernyataan nikah di persidangan, di hadapan hakim, sebagai perkawinan yang sah.

Upaya hukumnya berlangsung hampir sembilan tahun. Bagi publik, waktu itu terasa panjang. Namun jurnalis David Von Drehle justru mencatat bahwa untuk ukuran perkara pidana mati di Amerika, perkara Bundy bergerak cukup cepat.

Pada 24 Januari 1989, pukul 07.16 waktu setempat, Bundy dieksekusi di kursi listrik Florida State Prison. Usianya 42 tahun. Malam sebelumnya, ia mengakui 30 pembunuhan kepada penyidik, meski jumlah sebenarnya tidak pernah diketahui. Kisahnya terus diangkat ulang, dari buku Ann Rule hingga serial dokumenter Conversations with a Killer: The Ted Bundy Tapes di Netflix pada 2019.

Catatan dari Kursi Hakim

Saya membaca kisah ini bukan terutama sebagai cerita kriminal, melainkan sebagai cerita hukum acara. Yang paling menarik bagi saya justru pertanyaan sederhana: sejauh mana seorang terdakwa boleh membela dirinya sendiri?

Empat tahun sebelum sidang Miami, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutus perkara Faretta v. Californiapada 30 Juni 1975. Putusan itu menegaskan bahwa Amandemen Keenam menjamin hak terdakwa untuk membela dirinya sendiri, sepanjang ia melepaskan hak atas penasihat hukum secara sukarela dan dengan sadar. Dalam cara pandang Amerika, pembelaan adalah hak pribadi terdakwa; hakim boleh mengingatkan, tetapi keputusan akhir ada di tangan terdakwa.

Hukum acara kita berangkat dari titik yang berbeda. Pasal 56 ayat (1) KUHAP 1981 mewajibkan pejabat pada semua tingkat pemeriksaan menunjuk penasihat hukum dalam perkara yang diancam pidana mati atau pidana 15 tahun atau lebih. Kini Pasal 155 UU Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP, yang berlaku sejak 2 Januari 2026, merumuskan kewajiban serupa untuk ancaman pidana mati, penjara seumur hidup, atau penjara 15 tahun atau lebih.

Dengan rumusan “wajib menunjuk”, pendampingan advokat dalam perkara berat ditempatkan sebagai kewajiban negara, bukan sekadar pilihan terdakwa. Perkara Bundy memperlihatkan mengapa pilihan pembentuk undang-undang itu masuk akal. Ia pernah kuliah hukum, cerdas, dan fasih bicara, tetapi di ruang sidang ia tetap terdakwa yang sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri, tanpa jarak yang dibutuhkan seorang pembela untuk berpikir jernih.

Ada satu ironi lagi. Status sebagai pembela bagi diri sendiri itulah yang membuka jalan bagi pelariannya di Aspen: tanpa borgol, dengan akses ke perpustakaan hukum dan berkas perkara. Hak prosedural yang dimaksudkan untuk melindungi terdakwa tetap menuntut pengawasan yang sama seriusnya dari pengadilan.

Pelajaran dari Miami 1979 barangkali sederhana. Pengetahuan hukum tidak sama dengan pembelaan yang baik. Hakim Cowart sudah mengingatkannya sejak awal, dan Bundy baru membuktikannya ketika semuanya sudah terlambat. (al)


Rujukan

• Ted Bundy, Wikipedia

• Theodore Robert Bundy Trials: 1976 & 1979, Great American Trials via Encyclopedia.com

• Serial killer Ted Bundy's plea for a stay of execution, UPI, 30 Juni 1986

• Who Told Ted Bundy He Was 'Extremely Wicked, Shockingly Evil And Vile?', Oxygen

• The killer who defended himself, Crime+Investigation

• Ted Bundy: The First Trial, Crime Library

• Edward Cowart, Wikipedia

• Faretta v. California, 422 U.S. 806 (1975), Cornell Legal Information Institute

Baca Juga: Menelisik Pembuktian Pidana dalam Pasal 252 KUHP 2023 tentang Kekuatan Gaib

• Konsep Miranda Rules dalam KUHAP Baru di Indonesia, Klinik Hukumonline, 8 Januari 2026

• Transformasi Bantuan Hukum dalam KUHAP, Dandapala

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…