Di tahun ini saya berusia 43 tahun. Sebagian orang
menyebut usia ini sebagai salah satu fase terbaik dalam hidup seseorang: usia
ketika pengalaman mulai matang, tenaga masih cukup kuat, pikiran mulai lebih
tenang, dan arah hidup terasa lebih jelas. Mungkin saya termasuk salah satu
orang yang beruntung. Karier berjalan baik, kebutuhan hidup tercukupi, keluarga
menjadi sumber kebahagiaan, istri yang cantik dan setia mendampingi, seorang
anak laki-laki yang cerdas dan rupawan, seorang anak perempuan yang cantik dan
berprestasi, kesehatan yang masih terjaga, banyak nikmat lain yang tidak
mungkin saya hitung satu per satu.
Banyak orang mengatakan bahwa saya sedang berada di
puncak kehidupan. Ada yang menyebutnya puncak karir, ada yang menyebutnya masa
panen, ada pula yang mengatakan bahwa saya sedang menikmati buah dari kerja
keras panjang. Pujian datang dari berbagai arah. Kalimat-kalimat baik diucapkan
kepada saya. Sebagian terdengar tulus, sebagian terdengar membesarkan hati,
sebagian lainnya mungkin hanya basa-basi sosial. Tetapi semuanya memiliki satu
kesamaan, ia mengetuk pintu hati manusia bernama ego.
Pada titik ini, saya dan Anda bisa saja memiliki
perspektif yang berbeda. Bisa jadi Anda membaca tulisan ini dan berkata,
“Bukankah ini sedang mempertontonkan keangkuhan?” Bisa jadi Anda menilai bahwa
saya sedang memamerkan keberhasilan, keluarga, jabatan, dan kenyamanan hidup.
Saya tidak akan marah atas penilaian itu, pun saya juga tidak akan tersinggung.
Sebab justru di situlah letak perenungan saya. Saya sedang menguji diri saya
sendiri dengan pujian. Ya, dengan pujian.
Baca Juga: Perdebatan Yamin VS Soepomo: Cikal Bakal Lahirnya Judicial Review
Selama ini kita sering mengira bahwa ujian hidup
selalu datang dalam bentuk kesusahan, sakit, kekurangan, kehilangan, kegagalan,
pengkhianatan, atau hinaan. Kita merasa diuji ketika hidup menekan kita sampai
ke titik paling rendah. Tetapi semakin lama saya hidup, semakin saya menyadari
bahwa ujian paling halus justru sering datang dalam bentuk yang indah. Ia
datang sebagai keberhasilan. Ia datang sebagai pengakuan. Ia datang sebagai
tepuk tangan. Ia datang sebagai kalimat, “Anda hebat.” Ia datang dalam posisi yang
terhormat. Ia datang sebagai penghormatan orang lain yang perlahan-lahan bisa
membuat kita lupa bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Pujian adalah racun yang manis. Ia tidak langsung
membunuh, tetapi perlahan bisa melumpuhkan kesadaran. Saat dicela, manusia
biasanya waspada. Ia segera membela diri, memperbaiki diri, atau setidaknya
merasa terganggu. Tetapi saat dipuji, manusia sering membuka pintu
selebar-lebarnya. Pujian masuk tanpa permisi, duduk di ruang paling dalam, lalu
membisikkan kalimat berbahaya, “Mungkin memang engkau lebih baik dari orang
lain”, dari sinilah kesombongan bisa tumbuh tanpa suara.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa pujian selalu
buruk. Pujian yang tulus bisa menjadi energi, penguat, dan bentuk penghargaan
atas kerja keras. Anak-anak membutuhkan pujian agar percaya diri. Pasangan
membutuhkan apresiasi agar merasa dihargai. Seorang pekerja membutuhkan
pengakuan agar tahu bahwa jerih payahnya tidak sia-sia. Namun, bagi orang yang
sedang berada pada posisi nyaman, pujian harus diperlakukan dengan hati-hati.
Ia tidak boleh diminum sekaligus. Ia harus disaring dengan kesadaran.
Surat An-Najm ayat 32 mengingatkan agar manusia
tidak menganggap dirinya suci, begitu pula dengan Surat Luqman ayat 18 memberi
pesan agar manusia tidak berjalan di bumi dengan kesombongan, manusia
diingatkan agar tidak merasa dirinya suci, sebab hanya Tuhan yang paling
mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Pesan ini sangat dalam. Manusia
sering kali hanya melihat permukaan, jabatan, pakaian, rumah, gelar, prestasi,
dan cara bicara. Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia,
niat, keikhlasan, rasa takut, rasa syukur, dan pergulatan batin yang
tersembunyi. Karena itu, ketika orang lain memuji kita, pertanyaan yang lebih
penting bukanlah, “Apakah mereka benar?” melainkan, “Apakah Allah ridha?”
Amsal 27:21 menyatakan bahwa manusia diuji oleh
pujian, Matius 6:1 mengingatkan agar kebajikan tidak dilakukan sekadar untuk dilihat
orang, terdapat kebijaksanaan yang sangat tajam sebagaimana perak diuji dengan
tempat peleburan dan emas diuji dengan perapian, demikian pula manusia diuji
oleh pujian. Kalimat ini menunjukkan bahwa pujian bukan sekadar hadiah sosial,
tetapi alat penguji karakter. Orang yang belum selesai dengan dirinya akan
mengubah pujian menjadi panggung. Orang yang matang akan mengubah pujian
menjadi cermin. Panggung membuat seseorang ingin dilihat. Cermin membuat
seseorang ingin memperbaiki diri.
Dalam ajaran Hindu, Bhagavad Gita Bhagavad Gita
2:47 menekankan kewajiban berbuat tanpa keterikatan pada hasil, sedangkan
Bhagavad Gita 12:13 menekankan sikap tanpa iri, rendah hati, dan seimbang dalam
suka-duka, mengingatkan manusia untuk menjalankan kewajiban tanpa terikat
secara berlebihan pada buah dari pekerjaannya. Ini adalah pesan yang bagi siapa
pun yang sedang berada dalam dunia prestasi. Kita bekerja, berjuang, belajar,
memimpin, dan melayani, tetapi kita tidak boleh menjadi hamba dari hasil,
pengakuan, atau tepuk tangan. Ketika manusia terlalu melekat pada hasil, ia
mudah kecewa saat gagal dan mudah sombong saat berhasil. Padahal tugas utama
manusia adalah berbuat sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada
kebijaksanaan yang lebih tinggi.
Dalam ajaran Buddha, Dhammapada 81 menggambarkan
orang bijak seperti batu karang yang tidak terguncang oleh pujian maupun celaan,
terdapat gambaran indah tentang orang bijak yang tidak terguncang oleh pujian
maupun celaan, seperti batu karang yang tidak goyah diterpa angin. Ini bukan
berarti orang bijak tidak memiliki perasaan. Ini berarti ia tidak menyerahkan
pusat dirinya kepada suara orang lain. Ia tidak terbang terlalu tinggi ketika
dipuji, dan tidak hancur ketika dicela. Ia tetap berdiri di tempat yang sama:
tempat kesadaran, tempat pengendalian diri, tempat kejernihan batin.
Dalam falsafah Indonesia, kita mengenal ilmu padi. Semakin
berisi, semakin merunduk. Padi yang kosong berdiri tegak, tetapi padi yang
berisi justru menunduk. Alam mengajarkan bahwa kematangan tidak selalu tampak
sebagai ketinggian, tetapi sering tampak sebagai kerendahan hati. Orang yang
benar-benar berisi tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya berisi. Ia cukup
memberi manfaat. Ia cukup menjadi teduh. Ia cukup hadir tanpa harus selalu
menjelaskan siapa dirinya.
Ajaran Ki Hajar Dewantara juga memberi pelajaran
penting. Ing Ngarso San Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Di
depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi
dorongan. Bagi saya, ini bukan hanya semboyan pendidikan, tetapi juga filsafat
hidup. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar kewajibannya untuk
menjadi teladan. Semakin banyak orang menghormatinya, semakin besar tanggung
jawabnya untuk tidak menyalahgunakan penghormatan itu. Sebab kehormatan bukan
lisensi untuk merasa lebih tinggi, melainkan amanah untuk membuat orang lain
ikut bertumbuh.
Dalam tradisi China, Konfusius mengajarkan bahwa
manusia utama sederhana dalam ucapan, tetapi melampaui dalam tindakan. Ajaran
ini masih sangat relevan dalam dunia yang semakin ramai oleh pencitraan. Hari
ini, orang bisa terlihat hebat sebelum benar-benar bekerja. Orang bisa terlihat
bijak sebelum benar-benar matang. Orang bisa terlihat berhasil sebelum
benar-benar memberi manfaat. Konfusius mengingatkan bahwa kualitas manusia
tidak terutama diukur dari seberapa indah ia berbicara tentang dirinya, tetapi
dari seberapa jauh tindakannya membawa kebaikan.
Karena itu, saya ingin menjadikan pujian sebagai
laboratorium batin. Setiap kali dipuji, saya ingin bertanya kepada diri sendiri,
apakah pujian ini membuat saya lebih bersyukur atau lebih merasa besar? Apakah
pujian ini membuat saya lebih rajin memperbaiki diri atau justru merasa cukup?
Apakah pujian ini membuat saya lebih dekat kepada Tuhan atau lebih dekat kepada
ego? Apakah pujian ini membuat saya lebih mencintai keluarga, lebih menghormati
orang lain, lebih rendah hati kepada sesama, atau justru membuat saya diam-diam
merasa lebih tinggi?
Saya juga ingin mengingat bahwa semua yang saya
miliki hari ini bisa berubah. Dan Allah bisa dengan mudah mengambilnya kembali
kapan saja. Jabatan bisa berganti. Kesehatan bisa menurun. Anak-anak akan
tumbuh dengan jalan hidupnya masing-masing. Kekayaan bisa datang dan pergi.
Pujian bisa berubah menjadi kritik. Orang yang hari ini mengangkat kita besok akan
dengan cepat melupakan kita. Maka, sangat berbahaya jika pusat kebahagiaan
diletakkan pada sesuatu yang mudah berubah. Hidup akan lebih tenang jika
pusatnya adalah syukur, bukan tepuk tangan.
Pada akhirnya, saya menulis ini bukan untuk
mengatakan bahwa saya telah berhasil rendah hati. Justru sebaliknya, saya
menulis ini karena saya takut gagal. Saya takut pujian membuat saya lupa diri.
Saya takut kenyamanan membuat saya kehilangan kepekaan. Saya takut keberhasilan
membuat saya merasa tidak lagi membutuhkan nasihat. Saya takut dihormati
manusia tetapi kehilangan ketulusan di hadapan Tuhan. Tulisan ini adalah self
reminder bagi diri saya sendiri, jangan mabuk oleh pujian.
“Pujian boleh datang, tetapi ia tidak boleh menjadi
rumah. Ia hanya tamu. Sambut seperlunya, dengarkan secukupnya, lalu kembalikan
semuanya kepada Yang Maha Memberi. Jika pujian itu benar, jadikan ia alasan
untuk bersyukur. Jika pujian itu berlebihan, jadikan ia peringatan untuk
berhati-hati.”
Jika pujian itu tidak layak kita terima, jadikan ia doa agar suatu hari kita
benar-benar pantas menjadi pribadi yang lebih baik dari yang orang lain sangka.
Di usia 43 tahun ini, mungkin benar saya sedang
berada pada fase yang baik. Tetapi fase baik bukan alasan untuk merasa selesai.
Justru fase baik adalah saat paling penting untuk menjaga diri. Sebab manusia
tidak hanya diuji ketika ia jatuh. Manusia juga diuji ketika ia berdiri tegak.
Manusia tidak hanya diuji ketika ia kehilangan. Manusia juga diuji ketika ia
memiliki. Manusia tidak hanya diuji ketika ia dicela. Manusia juga diuji ketika
ia dipuji.
Baca Juga: Pemeriksaan Bukti Permulaan Tindak Pidana Perpajakan di Luar Yurisdiksi Praperadilan
Dan mungkin, di situlah rahasia kedewasaan hidup, mampu menerima pujian tanpa kehilangan kerendahan hati, mampu menikmati keberhasilan tanpa melupakan asal-usul, mampu berdiri di tempat tinggi tanpa memandang rendah siapa pun, dan mampu berkata kepada diri sendiri setiap hari “Aku bukan pemilik semua ini. Aku hanya penjaga sementara. Maka jangan sombong, jangan lengah, dan jangan lupa bersyukur.” (ldr)
Chongqing,-11 Juni 2026
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI