Cari Berita

Menguji Diri Dengan Pujian

Irwan Rosady - Dandapala Contributor 2026-06-11 09:15:04
Dok. Penulis.

Di tahun ini saya berusia 43 tahun. Sebagian orang menyebut usia ini sebagai salah satu fase terbaik dalam hidup seseorang: usia ketika pengalaman mulai matang, tenaga masih cukup kuat, pikiran mulai lebih tenang, dan arah hidup terasa lebih jelas. Mungkin saya termasuk salah satu orang yang beruntung. Karier berjalan baik, kebutuhan hidup tercukupi, keluarga menjadi sumber kebahagiaan, istri yang cantik dan setia mendampingi, seorang anak laki-laki yang cerdas dan rupawan, seorang anak perempuan yang cantik dan berprestasi, kesehatan yang masih terjaga, banyak nikmat lain yang tidak mungkin saya hitung satu per satu.

Banyak orang mengatakan bahwa saya sedang berada di puncak kehidupan. Ada yang menyebutnya puncak karir, ada yang menyebutnya masa panen, ada pula yang mengatakan bahwa saya sedang menikmati buah dari kerja keras panjang. Pujian datang dari berbagai arah. Kalimat-kalimat baik diucapkan kepada saya. Sebagian terdengar tulus, sebagian terdengar membesarkan hati, sebagian lainnya mungkin hanya basa-basi sosial. Tetapi semuanya memiliki satu kesamaan, ia mengetuk pintu hati manusia bernama ego.

Pada titik ini, saya dan Anda bisa saja memiliki perspektif yang berbeda. Bisa jadi Anda membaca tulisan ini dan berkata, “Bukankah ini sedang mempertontonkan keangkuhan?” Bisa jadi Anda menilai bahwa saya sedang memamerkan keberhasilan, keluarga, jabatan, dan kenyamanan hidup. Saya tidak akan marah atas penilaian itu, pun saya juga tidak akan tersinggung. Sebab justru di situlah letak perenungan saya. Saya sedang menguji diri saya sendiri dengan pujian. Ya, dengan pujian.

Baca Juga: Perdebatan Yamin VS Soepomo: Cikal Bakal Lahirnya Judicial Review

Selama ini kita sering mengira bahwa ujian hidup selalu datang dalam bentuk kesusahan, sakit, kekurangan, kehilangan, kegagalan, pengkhianatan, atau hinaan. Kita merasa diuji ketika hidup menekan kita sampai ke titik paling rendah. Tetapi semakin lama saya hidup, semakin saya menyadari bahwa ujian paling halus justru sering datang dalam bentuk yang indah. Ia datang sebagai keberhasilan. Ia datang sebagai pengakuan. Ia datang sebagai tepuk tangan. Ia datang sebagai kalimat, “Anda hebat.” Ia datang dalam posisi yang terhormat. Ia datang sebagai penghormatan orang lain yang perlahan-lahan bisa membuat kita lupa bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.

Pujian adalah racun yang manis. Ia tidak langsung membunuh, tetapi perlahan bisa melumpuhkan kesadaran. Saat dicela, manusia biasanya waspada. Ia segera membela diri, memperbaiki diri, atau setidaknya merasa terganggu. Tetapi saat dipuji, manusia sering membuka pintu selebar-lebarnya. Pujian masuk tanpa permisi, duduk di ruang paling dalam, lalu membisikkan kalimat berbahaya, “Mungkin memang engkau lebih baik dari orang lain”, dari sinilah kesombongan bisa tumbuh tanpa suara.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa pujian selalu buruk. Pujian yang tulus bisa menjadi energi, penguat, dan bentuk penghargaan atas kerja keras. Anak-anak membutuhkan pujian agar percaya diri. Pasangan membutuhkan apresiasi agar merasa dihargai. Seorang pekerja membutuhkan pengakuan agar tahu bahwa jerih payahnya tidak sia-sia. Namun, bagi orang yang sedang berada pada posisi nyaman, pujian harus diperlakukan dengan hati-hati. Ia tidak boleh diminum sekaligus. Ia harus disaring dengan kesadaran.

Surat An-Najm ayat 32 mengingatkan agar manusia tidak menganggap dirinya suci, begitu pula dengan Surat Luqman ayat 18 memberi pesan agar manusia tidak berjalan di bumi dengan kesombongan, manusia diingatkan agar tidak merasa dirinya suci, sebab hanya Tuhan yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa. Pesan ini sangat dalam. Manusia sering kali hanya melihat permukaan, jabatan, pakaian, rumah, gelar, prestasi, dan cara bicara. Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia, niat, keikhlasan, rasa takut, rasa syukur, dan pergulatan batin yang tersembunyi. Karena itu, ketika orang lain memuji kita, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Apakah mereka benar?” melainkan, “Apakah Allah ridha?”

Amsal 27:21 menyatakan bahwa manusia diuji oleh pujian, Matius 6:1 mengingatkan agar kebajikan tidak dilakukan sekadar untuk dilihat orang, terdapat kebijaksanaan yang sangat tajam sebagaimana perak diuji dengan tempat peleburan dan emas diuji dengan perapian, demikian pula manusia diuji oleh pujian. Kalimat ini menunjukkan bahwa pujian bukan sekadar hadiah sosial, tetapi alat penguji karakter. Orang yang belum selesai dengan dirinya akan mengubah pujian menjadi panggung. Orang yang matang akan mengubah pujian menjadi cermin. Panggung membuat seseorang ingin dilihat. Cermin membuat seseorang ingin memperbaiki diri.

Dalam ajaran Hindu, Bhagavad Gita Bhagavad Gita 2:47 menekankan kewajiban berbuat tanpa keterikatan pada hasil, sedangkan Bhagavad Gita 12:13 menekankan sikap tanpa iri, rendah hati, dan seimbang dalam suka-duka, mengingatkan manusia untuk menjalankan kewajiban tanpa terikat secara berlebihan pada buah dari pekerjaannya. Ini adalah pesan yang bagi siapa pun yang sedang berada dalam dunia prestasi. Kita bekerja, berjuang, belajar, memimpin, dan melayani, tetapi kita tidak boleh menjadi hamba dari hasil, pengakuan, atau tepuk tangan. Ketika manusia terlalu melekat pada hasil, ia mudah kecewa saat gagal dan mudah sombong saat berhasil. Padahal tugas utama manusia adalah berbuat sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Dalam ajaran Buddha, Dhammapada 81 menggambarkan orang bijak seperti batu karang yang tidak terguncang oleh pujian maupun celaan, terdapat gambaran indah tentang orang bijak yang tidak terguncang oleh pujian maupun celaan, seperti batu karang yang tidak goyah diterpa angin. Ini bukan berarti orang bijak tidak memiliki perasaan. Ini berarti ia tidak menyerahkan pusat dirinya kepada suara orang lain. Ia tidak terbang terlalu tinggi ketika dipuji, dan tidak hancur ketika dicela. Ia tetap berdiri di tempat yang sama: tempat kesadaran, tempat pengendalian diri, tempat kejernihan batin.

Dalam falsafah Indonesia, kita mengenal ilmu padi. Semakin berisi, semakin merunduk. Padi yang kosong berdiri tegak, tetapi padi yang berisi justru menunduk. Alam mengajarkan bahwa kematangan tidak selalu tampak sebagai ketinggian, tetapi sering tampak sebagai kerendahan hati. Orang yang benar-benar berisi tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya berisi. Ia cukup memberi manfaat. Ia cukup menjadi teduh. Ia cukup hadir tanpa harus selalu menjelaskan siapa dirinya.

Ajaran Ki Hajar Dewantara juga memberi pelajaran penting. Ing Ngarso San Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan. Bagi saya, ini bukan hanya semboyan pendidikan, tetapi juga filsafat hidup. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar kewajibannya untuk menjadi teladan. Semakin banyak orang menghormatinya, semakin besar tanggung jawabnya untuk tidak menyalahgunakan penghormatan itu. Sebab kehormatan bukan lisensi untuk merasa lebih tinggi, melainkan amanah untuk membuat orang lain ikut bertumbuh.

Dalam tradisi China, Konfusius mengajarkan bahwa manusia utama sederhana dalam ucapan, tetapi melampaui dalam tindakan. Ajaran ini masih sangat relevan dalam dunia yang semakin ramai oleh pencitraan. Hari ini, orang bisa terlihat hebat sebelum benar-benar bekerja. Orang bisa terlihat bijak sebelum benar-benar matang. Orang bisa terlihat berhasil sebelum benar-benar memberi manfaat. Konfusius mengingatkan bahwa kualitas manusia tidak terutama diukur dari seberapa indah ia berbicara tentang dirinya, tetapi dari seberapa jauh tindakannya membawa kebaikan.

Karena itu, saya ingin menjadikan pujian sebagai laboratorium batin. Setiap kali dipuji, saya ingin bertanya kepada diri sendiri, apakah pujian ini membuat saya lebih bersyukur atau lebih merasa besar? Apakah pujian ini membuat saya lebih rajin memperbaiki diri atau justru merasa cukup? Apakah pujian ini membuat saya lebih dekat kepada Tuhan atau lebih dekat kepada ego? Apakah pujian ini membuat saya lebih mencintai keluarga, lebih menghormati orang lain, lebih rendah hati kepada sesama, atau justru membuat saya diam-diam merasa lebih tinggi?

Saya juga ingin mengingat bahwa semua yang saya miliki hari ini bisa berubah. Dan Allah bisa dengan mudah mengambilnya kembali kapan saja. Jabatan bisa berganti. Kesehatan bisa menurun. Anak-anak akan tumbuh dengan jalan hidupnya masing-masing. Kekayaan bisa datang dan pergi. Pujian bisa berubah menjadi kritik. Orang yang hari ini mengangkat kita besok akan dengan cepat melupakan kita. Maka, sangat berbahaya jika pusat kebahagiaan diletakkan pada sesuatu yang mudah berubah. Hidup akan lebih tenang jika pusatnya adalah syukur, bukan tepuk tangan.

Pada akhirnya, saya menulis ini bukan untuk mengatakan bahwa saya telah berhasil rendah hati. Justru sebaliknya, saya menulis ini karena saya takut gagal. Saya takut pujian membuat saya lupa diri. Saya takut kenyamanan membuat saya kehilangan kepekaan. Saya takut keberhasilan membuat saya merasa tidak lagi membutuhkan nasihat. Saya takut dihormati manusia tetapi kehilangan ketulusan di hadapan Tuhan. Tulisan ini adalah self reminder bagi diri saya sendiri, jangan mabuk oleh pujian.

“Pujian boleh datang, tetapi ia tidak boleh menjadi rumah. Ia hanya tamu. Sambut seperlunya, dengarkan secukupnya, lalu kembalikan semuanya kepada Yang Maha Memberi. Jika pujian itu benar, jadikan ia alasan untuk bersyukur. Jika pujian itu berlebihan, jadikan ia peringatan untuk berhati-hati.” Jika pujian itu tidak layak kita terima, jadikan ia doa agar suatu hari kita benar-benar pantas menjadi pribadi yang lebih baik dari yang orang lain sangka.

Di usia 43 tahun ini, mungkin benar saya sedang berada pada fase yang baik. Tetapi fase baik bukan alasan untuk merasa selesai. Justru fase baik adalah saat paling penting untuk menjaga diri. Sebab manusia tidak hanya diuji ketika ia jatuh. Manusia juga diuji ketika ia berdiri tegak. Manusia tidak hanya diuji ketika ia kehilangan. Manusia juga diuji ketika ia memiliki. Manusia tidak hanya diuji ketika ia dicela. Manusia juga diuji ketika ia dipuji.

Baca Juga: Pemeriksaan Bukti Permulaan Tindak Pidana Perpajakan di Luar Yurisdiksi Praperadilan

Dan mungkin, di situlah rahasia kedewasaan hidup, mampu menerima pujian tanpa kehilangan kerendahan hati, mampu menikmati keberhasilan tanpa melupakan asal-usul, mampu berdiri di tempat tinggi tanpa memandang rendah siapa pun, dan mampu berkata kepada diri sendiri setiap hari “Aku bukan pemilik semua ini. Aku hanya penjaga sementara. Maka jangan sombong, jangan lengah, dan jangan lupa bersyukur.” (ldr)


Chongqing,-11 Juni 2026

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…