Selasa, 10 Februari 2026, di sela-sela menunggu dimulainya acara Laporan Tahunan Mahkamah Agung, dalam sebuah perbincangan ringan namun penuh makna dengan Direktur Jenderal Badan Peradilan TUN dan Militer (Badimiltun), Marsekal Muda Dr. Yuwono Agung Nugroho, terlontar satu kalimat reflektif: jabatan hakim itu ibarat menjaminkan akhirat dengan dunia.
Kalimat itu memang sederhana, namun menggugah. Ia bukan retorika, melainkan pengingat moral tentang hakikat jabatan hakim sebagai amanah. Amanah dipertanggungjawabkan bukan hanya di hadapan negara dan masyarakat, tetapi juga—bagi yang meyakini—di hadapan Tuhan.
Percakapan tersebutpun mengerucut pada hakikat jabatan hakim, satu keputusan keliru akan merugikan nasib banyak orang, bahkan institusi. Keputusan Hakim tidak hanya berhenti di meja sidang, tetapi menuntut pertanggungjawaban lebih sampai diakhirat. Untuk itu, Hakim diberikan Mahkota keadilan, Mahkota itu berat, tidak sekedar hiasan, tetapi menunut pertanggungjawaban hukum dan moral.
Baca Juga: Membangun Rumah Rakyat Pemenuhan Hak Asasi Manusia Akan Hunian
Setiap hari hakim dan aparatur peradilan bergulat dengan nasib manusia: harta, kebebasan, kehormatan, bahkan masa depan keluarga orang lain. Di tangan peradilan, keadilan bisa terasa hidup atau justru terasa jauh. Karena itu, integritas bukan pelengkap, melainkan inti dari jabatan itu sendiri.
Laporan Tahunan Mahkamah Agung tahun ini mengusung Pengadilan Terpercaya, Rakyat Sejahtera. Tema ini mengandung hubungan sebab-akibat yang mendalam, karena pengadilan hanya dapat dipercaya bila dijalankan oleh insan-insan yang dapat dipercaya. Hingga akhirnya, kepercayaan publik adalah jalan menuju kesejahteraan sosial. Tanpa kepastian hukum dan rasa keadilan, kesejahteraan hanya menjadi slogan.
Dalam perspektif moral, suap dan penyimpangan integritas bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap amanah. Ia mungkin memberi kenyamanan sesaat, tetapi menggerogoti kehormatan jangka panjang. Ia mungkin menguntungkan hari ini, tetapi meninggalkan beban moral yang tidak ringan.
Negara telah berikhtiar meningkatkan kesejahteraan hakim dan aparatur peradilan. Ini adalah langkah penting dan patut disyukuri sebagai bentuk penghormatan terhadap beratnya tanggung jawab jabatan. Gaji dan tunjangan yang layak adalah kompensasi atas beban moral, intelektual, dan sosial yang melekat pada profesi ini.
Namun harus disadari dengan jernih: kesejahteraan tidak otomatis melahirkan integritas.
Kesejahteraan hanya fasilitas. Sementara integritas lahir dari kesadaran batin tentang mana yang benar dan mana yang keliru. Ia hidup, tumbuh dan bersemayam dari nilai, tidak dapat dikonversi, karena integritas bukan sekedar angka-angka semua.
Karena itu, penguatan integritas ditempuh secara menyeluruh. Integritas tidak hanya dibebankan pada kekuatan pribadi, tetapi juga dijaga melalui sistem yang terus diperkuat. Setinggi apa pun pagar dibangun, tanpa integritas ia akan tetap dilompati. Serendah apa pun pagar itu, dengan integritas ia tak akan pernah disentuh. Integritas bukan soal tinggi rendahnya pagar, namun ia pengingat akan kesadaran untuk tidak melompati batas.
Sistem yang baik juga harus didukung oleh kesadaran kolektif aparatur peradilan. Pagar yang telah dibangun, sebagai penanda batas bertindak.
Badan Peradilan Umum berkomitmen memperkokoh tata kelola, memperketat pengawasan, menegakkan merit system secara konsisten, serta menutup setiap celah penyimpangan.
Sistem yang kuat adalah pagar, integritas pribadi adalah fondasi; keduanya tidak dapat dipisahkan. Dari perpaduan itulah lahir peradilan yang kokoh dan dipercaya.
Partisipasi seluruh aparatur dituntut menjaga fondasi pagar, agar pagar tidak hancur. Semakin kuat fondasi pagar, maka semakin kokoh pagar yang telah dibangun. Ya, benar, tugas kita bersama menjaga pagar itu.
Integritas bersemayam di batin, dan bukan diuji pada saat diawasi. Integritas juga ketika seseorang menolak yang tidak halal meski tidak ada yang melihat. Integritas adalah ketika nurani lebih nyaring daripada godaan. Integritas adalah ketika jabatan dipandang sebagai ladang pengabdian, bukan sarana keuntungan.
Badan Peradilan Umum menegaskan bahwa integritas adalah garis merah yang tidak dapat dilampaui. Tidak ada ruang kompromi terhadap suap, gratifikasi, atau penyalahgunaan wewenang. Setiap dugaan pelanggaran akan ditangani secara serius, profesional, dan proporsional. Ketegasan ini bukan semata penegakan disiplin, melainkan penjagaan marwah lembaga dan kepercayaan publik.
Namun refleksi ini juga harus adil. Mayoritas hakim dan aparatur peradilan Indonesia bekerja dengan lurus dan penuh dedikasi. Mereka menjaga kehormatan profesi dalam senyap, memegang teguh sumpah jabatan, dan menempatkan nurani di atas kepentingan pribadi. Merekalah fondasi utama peradilan yang dipercaya.
Tulisan ini pada akhirnya adalah ajakan perenungan. Setiap insan peradilan akan sampai pada ruang sunyi ketika keputusan diambil sendirian. Tidak ada atasan, tidak ada sorotan publik. Hanya diri sendiri dan suara hati. Di ruang sunyi itulah integritas menemukan makna sejatinya.
Di situlah pula makna “menjaminkan akhirat” menjadi pengingat bahwa jabatan ini memiliki dimensi pertanggungjawaban moral yang panjang. Bahwa setiap putusan bukan hanya dicatat dalam berkas perkara, tetapi juga dalam catatan nurani.
Peradilan yang agung tidak hanya dibangun oleh hukum acara dan teknologi, tetapi oleh hati yang bersih dan niat yang lurus. Ketika integritas menjadi nafas bersama, pengadilan menjadi terpercaya. Dan ketika pengadilan dipercaya, masyarakat merasakan keadilan, dunia usaha merasakan kepastian, dan rakyat merasakan kesejahteraan.
Baca Juga: Melik Nggendong Lali sebelum Getun Keduwung: Renungan dan Nasihat
Pada akhirnya, percakapan itu ditutup dengan satu kesadaran bersama. Integritas dipahami bukan sekadar tuntutan jabatan, melainkan amanah yang dijaga dalam diam. Amanah adalah kehormatan. Dan kehormatan adalah warisan paling berharga bagi insan peradilan.
Sebab jabatan ini, pada hakikatnya, bukan tentang seberapa lama dipegang—tetapi tentang bagaimana dipertanggungjawabkan. (hs, ldr)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI