Cari Berita

Ketua PN Amlapura: Ketakwaan adalah Fondasi Utama Integritas

I Putu Renatha Indra Putra - Dandapala Contributor 2026-01-16 17:05:32
Dok. Penulis.

Amlapura, Bali-Mengawali kalender kerja tahun 2026 dengan semangat yang tinggi, Keluarga Besar Pengadilan Negeri (PN) Amlapura melaksanakan rangkaian tirta yatra di kabupaten Karangasem dan kabupaten Buleleng. Kegiatan maraton sejak sore hingga pagi ini menjadi momentum penting bagi seluruh aparatur untuk memperkuat solidaritas, memantapkan keimanan, sekaligus meneguhkan integritas melalui pendekatan religius.

Perjalanan dimulai dengan persembahyangan bersama di Padmasana PN Amlapura sebagai simbol permohonan izin dan keselamatan. Tepat pukul 17.30 WITA, hari Kamis (15/1), rombongan berangkat menuju Pura Ayu Lempuyang di Karangasem sebagai titik awal perjalanan. Seiring bergantinya hari, perjalanan berlanjut ke wilayah Buleleng dengan rangkaian persembahyangan di Pura Ponjok Batu, Pura Pabean, Pura Pulaki, Pura Pasar Agung, Pura Melanting, Pura Kertha Kawat, dan berakhir di Pura Pemuteran pada Jumat, 16 Januari 2026 pukul 07.00 WITA. Setelah menuntaskan seluruh rangkaian, rombongan kembali ke Amlapura pukul 11.30 WITA dengan membawa semangat baru.

Ketua PN Amlapura menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perjalanan, melainkan bagian dari pembinaan mental aparatur. “Sebagai aparatur sipil negara khususnya di lingkungan peradilan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah fondasi utama integritas. Perjalanan lintas hari ini melambangkan dedikasi dan daya tahan kita bersama. Jika secara spiritual kita kuat, maka dalam menjalankan tugas kedinasan pun kita akan tetap teguh menjaga amanah dan kejujuran,” ujarnya.

Baca Juga: Integritas Tanpa Batas, PN Amlapura Dukung Peradilan Berkualitas

Perjalanan tirta yatra yang berlangsung semalam suntuk bukan hanya ujian fisik, tetapi juga latihan mental. Menempuh perjalanan panjang dari satu pura ke pura lain melatih disiplin, kesabaran, dan daya tahan emosional. Aparatur belajar mengendalikan diri, menjaga fokus, serta menumbuhkan rasa syukur di tengah kelelahan. Dimensi psikologis ini penting karena tugas yudisial sehari-hari menuntut keteguhan hati dalam menghadapi tekanan, kompleksitas perkara, dan ekspektasi masyarakat. Dengan pengalaman spiritual yang menuntut ketekunan dan konsistensi, aparatur semakin siap menghadapi tantangan kedinasan dengan mental yang lebih kuat dan stabil.

Selain itu, tirta yatra memiliki relevansi langsung dengan kualitas pelayanan publik. Aparatur yang menjalani pembinaan spiritual dan kebersamaan akan lebih siap melayani masyarakat pencari keadilan dengan empati, kesabaran, dan sikap humanis. Nilai integritas yang diteguhkan dalam perjalanan ini bukan hanya untuk internal organisasi, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap keputusan dan pelayanan administratif mencerminkan kejujuran serta tanggung jawab. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi jembatan antara pembinaan internal aparatur dan kepercayaan eksternal masyarakat.

Selain memperkokoh keimanan, tirta yatra menjadi wadah untuk melepas sekat-sekat struktural. Sepanjang perjalanan, tercipta komunikasi yang lebih cair antara pimpinan, hakim, dan staf, sehingga kebersamaan yang terjalin di luar jam kantor diharapkan meningkatkan sinergitas dalam menyelesaikan tugas yudisial secara kompak dan profesional.

Kegiatan ini juga menjadi implementasi nyata nilai BerAKHLAK, khususnya Harmonis, yang menekankan pentingnya kebersamaan, saling menghargai, dan memperkuat hubungan kerja. Lebih dari itu, tirta yatra menjadi pengingat kembali atas pakta integritas yang telah digaungkan, meneguhkan komitmen aparatur PN Amlapura untuk menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, dan pengabdian.

Dengan landasan iman, kebersamaan, dan integritas, PN Amlapura menegaskan bahwa tugas peradilan bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan hati yang bersih. Tirta yatra ini menjadi simbol bahwa spiritualitas dan profesionalisme dapat berjalan beriringan, membentuk fondasi kokoh bagi terciptanya peradilan yang agung dan dipercaya masyarakat.

Baca Juga: Keadilan Restoratif Warnai Putusan Penusukan Anak di PN Amlapura

Kegiatan tirta yatra yang dilaksanakan PN Amlapura tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga mencerminkan penghargaan terhadap kearifan lokal Bali. Tradisi perjalanan suci ke pura-pura merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat setempat, yang menekankan kesucian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam serta sesama. Dengan mengadakan tirta yatra tersebut, PN Amlapura menunjukkan bahwa institusi peradilan modern dapat berjalan seiring dengan tradisi lokal, sehingga tercipta harmoni antara nilai budaya dan tugas kedinasan.

Dimensi sosial-budaya ini memperkuat legitimasi pengadilan di mata masyarakat, karena aparatur tidak hanya hadir sebagai pelaksana hukum, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang memahami dan menghargai tradisi. Dengan demikian, tirta yatra menjadi simbol integrasi antara spiritualitas, budaya, dan profesionalisme, membentuk fondasi kokoh bagi peradilan yang agung, humanis, dan dipercaya masyarakat. IKAW/LDR

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…