Perayaan Paskah
selalu berbicara tentang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dari kematian, namun
kebangkitan-Nya bukan sekadar peristiwa iman yang kita rayakan setiap tahun. Ia
adalah titik balik, sebuah undangan untuk berubah, diperbarui, dan menjalani
hidup dengan cara yang berbeda.
Tema Paskah yang
diangkat oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) tahun 2026, “Kristus
Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita,” mengajak kita melihat lebih dalam: apa yang
sebenarnya perlu diperbarui dalam diri kita? Bagi kita yang termasuk sebagai aparatur
peradilan, hakim, panitera, atau seluruh insan pengadilan, apa maknanya bagi
cara kita dalam melayani masyarakat pencari keadilan?
Kebangkitan: Lebih dari Sekadar Perubahan Luar
Baca Juga: Refleksi Natal: Kesederhanaan Sang Imanuel Bersama Kelompok Rentan
Dalam 2 Korintus
5:17 Rasul Paulus menulis sebagai berikut: “Jadi
siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah
berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Rasul Paulus menegaskan
bahwa kebangkitan Kristus melahirkan manusia baru. Bukan sekadar “versi lama
yang diperbaiki,” tetapi benar-benar diperbarui dari dalam.
Seringkali kita
memahami perubahan secara dangkal. Sistem diperbarui, aplikasi ditingkatkan, prosedur
disederhanakan. Namun jika cara berpikir dan sikap hati tidak berubah, maka
yang terjadi hanyalah “perubahan kosmetik”. Hal yang sama berlaku dalam dunia
peradilan. Digitalisasi, e-court, dan berbagai inovasi teknologi adalah langkah
penting. Tetapi jika mentalitas lama, lamban, tidak responsif, atau bahkan
tidak berintegritas, yang ternyata masih kita pertahankan, maka keadilan yang
diharapkan masyarakat tetap terasa jauh. Sebaliknya, Paskah mengingatkan kita
untuk mengalami perubahan yang sejati selalu dimulai dari dalam.
Dari Kubur Menuju Harapan: Makna Bagi Peradilan
Kebangkitan
Kristus adalah kemenangan atas kematian, kegelapan, dan keputusasaan. Dalam
konteks peradilan, kita bisa melihat “kematian” itu dalam bentuk lain, yakni: ketidakpercayaan
publik, proses yang berbelit, dan ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat
kecil. Namun dalam 1 Petrus 1:3 Paskah membawa pesan harapan: “Terpujilah Allah… yang karena rahmat-Nya
yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari
antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.”
Pengharapan ini
bukan sesuatu yang abstrak. Ia harus nyata dalam pelayanan kita sehari-hari.
Setiap perkara yang kita tangani, setiap putusan yang kita buat, dan setiap
layanan yang kita berikan, semuanya dapat menjadi wujud “kebangkitan” bagi masyarakat
pencari keadilan. Sebab bagi seseorang yang mencari keadilan, pengadilan bukan hanya
sekadar suatu institusi. Ia adalah tempat harapan, dan kita, aparatur
peradilan, adalah bagian dari harapan itu.
Transformasi Digital: Alat, Bukan Tujuan
Dalam cetak biru Mahkamah
Agung, transformasi digital adalah salah satu bagian penting dari upaya untuk mewujudkan
peradilan yang agung. Ini adalah langkah besar dan patut diapresiasi. Namun
penting untuk diingat: teknologi hanyalah alat.
Tanpa hati yang diperbarui, maka teknologi
dapat menjadi sekadar formalitas, bahkan alat baru untuk mempertahankan
kebiasaan lama. Sebaliknya, dengan hati yang benar, teknologi bisa menjadi
sarana untuk mempercepat pelayanan, membuka akses keadilan dan mengurangi
potensi penyimpangan.
Tuhan Yesus sendiri mengingatkan dalam
Matius 5:14,16, bahwa “Kamu adalah terang
dunia… Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka
melihat perbuatanmu yang baik…” Dalam konteks peradilan modern, “terang”
itu bisa hadir dalam bentuk pelayanan yang cepat, transparan, dan adil. Sistem
digital yang baik adalah salah satu cara agar terang surgawi bersinar, dan sumbernya
berasal dari kuasa dan kasih Kristus dalam diri kita.
Integritas: Jantung dari Pembaruan
Tidak ada kebangkitan tanpa perubahan
karakter. Tidak ada peradilan yang agung tanpa integritas. Paskah berbicara
tentang keteladanan Tuhan Yesus Kristus dalam kasih, pengorbanan, dan
kebenaran. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi fondasi dalam setiap tindakan
kita sebagai aparatur peradilan.
Rasul Paulus menulis di Roma 12:2,
bahwa “Janganlah kamu menjadi serupa
dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…” Pembaharuan
budi berarti bahwa kita bekerja bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi
untuk menghadirkan keadilan, tidak sekadar mengikuti prosedur, tetapi memahami
makna di baliknya, tidak hanya untuk menghindari kesalahan, tetapi aktif
melakukan yang benar.
Integritas tidak bisa digantikan oleh
sistem. Ia harus tumbuh dari dalam diri setiap individu.
Menghadirkan Kemanusiaan dalam Sistem
Tema Paskah 2026
menekankan adanya “pembaruan kemanusiaan”. Ini sangat relevan dengan kebutuhan dunia
peradilan Indonesia saat ini. Di balik setiap berkas perkara, ada manusia yang
haus mencari keadilan, yang terluka, dan yang berharap hidupnya dipulihkan oleh
putusan pengadilan. Digitalisasi tidak boleh membuat kita kehilangan sentuhan
kemanusiaan. Justru sebaliknya, teknologi harus membantu kita menjadi lebih peka,
cepat tanggap, dan bersikap adil tanpa diskriminasi.
Dari Paskah kita
belajar bahwa Tuhan Yesus Kristus telah menunjukkan teladan itu, sebagaimana
Matius 25:40 “Apa pun yang kamu lakukan
untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk Aku.” Ayat ini sederhana, tetapi sangat dalam, di mana cita
melayani masyarakat pencari keadilan, terutama yang lemah, menjadi cerminan
dari nilai Kerajaan Allahyang kita pegang.
Kebangkitan dalam Tugas Sehari-hari
Seringkali kita berpikir bahwa
perubahan besar harus dimulai dari kebijakan besar. Padahal, kebangkitan itu bisa
dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya: melayani dengan sikap yang ramah, bekerja
dengan penuh tanggung jawab, dan menjaga kejujuran dalam setiap keputusan,
serta tidak menunda-nunda pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini. Hal-hal
kecil tersebut, jika dilakukan dengan konsisten, akan membawa perubahan besar.
Paskah tidak hanya dirayakan di gereja,
dan tidak terbatas hanya di hari Paskah saja. Ia harus hidup dan diterapkan
setiap hari dalam ruang kerja, ruang sidang, dan setiap saat ketika kita berinteraksi
dengan masyarakat.
Penutup: Menjadi Bagian dari Pembaruan
Paskah adalah undangan. Undangan dari
Tuhan Yesus Kristus bagi kita semua untuk meninggalkan cara lama dan hidup
dalam pembaruan. Bagi aparatur peradilan, undangan itu berarti memperbarui cara
berpikir, memperbarui cara bekerja dan memperbarui cara melayani.
Transformasi digital yang sedang
berjalan adalah kesempatan besar bagi kita sebagai insan pengadilan. Namun
tanpa pembaruan manusia, ia tidak akan mencapai tujuan sejatinya. Sebaliknya,
jika kita mau berubah, dimulai dari dalam, maka setiap inovasi, setiap sistem,
dan setiap kebijakan akan menjadi alat untuk menghadirkan keadilan yang benar-benar
hidup.
Baca Juga: 15 Tahun Pengadilan Tipikor, Saatnya Bangkit untuk Keadilan Substantif
Akhirnya, mari
kita pegang satu pengingat sederhana, bahwa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus bukan
hanya sekedar peristiwa keagamaan yang kita rayakan setiap tahun, namun adalah
suatu perubahan yang kita jalani setiap hari. Selamat merayakan Paskah, kiranya
kebangkitan Tuhan Yesus Kristus benar-benar membarui kita, dan melalui kita, akan
membarui wajah peradilan Indonesia. Tuhan memberkati kita semua! (ldr/al)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI