Cari Berita

Mengapa Statistik Buruk tentang Hakim Mudah Dipercaya

Muamar A.M. Farig - Dandapala Contributor 2026-08-14 08:00:17
Dok. Ist.

Ada sesuatu yang menarik dalam cara manusia memperlakukan angka. Pendapat dapat diperdebatkan dan kata-kata dapat dicurigai sebagai subjektif, tetapi angka sering diterima seolah-olah merupakan kenyataan itu sendiri. Padahal, angka bukanlah kenyataan, melainkan cara tertentu untuk merepresentasikan kenyataan. Ketika statistik menunjukkan pengaduan, pelanggaran, atau penyimpangan yang melibatkan hakim, angka tersebut dapat dengan cepat berkembang dari sekadar data menjadi gambaran mengenai profesi, bahkan ukuran keadaan peradilan secara keseluruhan. Justru karena statistik penting, angka perlu dibaca bersama konteks, metode, populasi, dan batas penafsirannya.

Kabar Buruk yang Lebih Mudah Diingat

Psikologi manusia tidak memperlakukan kabar baik dan kabar buruk secara seimbang. Informasi mengenai ancaman, kegagalan, dan penyimpangan cenderung memperoleh perhatian lebih besar daripada keadaan yang berjalan normal. Kecenderungan ini dikenal sebagai negativity bias. Penelitian mengenai konsumsi berita daring juga menunjukkan bahwa penggunaan kata-kata negatif dalam judul meningkatkan kemungkinan pembaca membuka berita (Robertson dkk., 2023).

Baca Juga: Dr Marsudin Nainggolan: Hakim, Akademisi, dan Pemikir Hukum

Dalam peradilan, kecenderungan tersebut mudah ditemukan. Persidangan yang berlangsung tertib, putusan yang disusun dengan sungguh-sungguh, hakim yang menolak intervensi, atau perkara yang diselesaikan sebagaimana mestinya jarang dianggap sebagai berita. Semua itu dipandang sebagai kewajaran. Sebaliknya, satu hakim yang melakukan pelanggaran dapat memperoleh perhatian luas.

Di sinilah terdapat paradoks profesi publik. Keberhasilan sering hadir sebagai sesuatu yang tidak terjadi. Pengadilan dianggap bekerja baik ketika proses berlangsung tanpa skandal dan kewenangan dijalankan secara independen. Karena keadaan normal tidak mengejutkan, kegagalan seorang individu dapat terlihat jauh lebih besar daripada integritas banyak orang yang tidak pernah menjadi berita.

Namun, negativity bias tidak boleh digunakan untuk menyalahkan masyarakat. Kecurigaan terhadap kekuasaan merupakan unsur penting dalam demokrasi. Hakim memegang kewenangan yang dapat menentukan kemerdekaan, harta, keluarga, dan berbagai hak warga negara. Wajar apabila penyimpangan dalam profesi ini memperoleh perhatian besar. Persoalan baru muncul ketika perhatian terhadap pelanggaran berubah menjadi generalisasi terhadap keseluruhan profesi.

Angka Menjadi Gambaran tentang Institusi

Angka mempunyai kekuatan karena menyederhanakan kenyataan. Namun, setiap penyederhanaan mempunyai konsekuensi. Statistik mengenai pengaduan, misalnya, belum dengan sendirinya menjelaskan berapa yang terbukti, berapa orang yang terlibat, berapa besar populasi yang dibandingkan, atau dalam rentang waktu apa peristiwa terjadi.

Dalam psikologi keputusan dikenal kecenderungan memberi perhatian besar kepada angka absolut sementara konteks pembandingnya kurang diperhatikan. Tversky dan Kahneman menunjukkan bahwa cara informasi disajikan dapat memengaruhi penilaian manusia, bahkan ketika substansi dasarnya sama (Tversky dan Kahneman, 1974). Karena itu, seratus peristiwa dapat terlihat besar atau kecil bergantung pada penyebut, periode, dan konteks yang menyertainya.

Hal tersebut tidak berarti pelanggaran dapat diremehkan karena proporsinya kecil. Dalam profesi hakim, satu pelanggaran serius tetap layak mendapatkan perhatian. Namun, penilaian terhadap seorang pelanggar berbeda dari kesimpulan mengenai karakter suatu institusi. Statistik membutuhkan bukan hanya ketepatan menghitung, tetapi juga kejujuran dalam menafsirkan.

Membaca Statistik dengan Ukuran yang Sama

Prinsip kehati-hatian seharusnya berlaku dua arah. Statistik mengenai pelanggaran tidak boleh langsung digunakan untuk menyimpulkan kemerosotan peradilan, tetapi statistik positif juga tidak patut diterima tanpa pertanyaan yang sama. Angka mengenai produktivitas penyelesaian perkara, tingkat kepuasan masyarakat, atau capaian pelayanan tetap perlu diperiksa melalui metode, periode, populasi, indikator, dan konteks yang melatarbelakanginya.

Mahkamah Agung secara berkala mempublikasikan data mengenai beban dan penyelesaian perkara, kinerja pengadilan, serta berbagai hasil pelayanan publik. Angka tersebut penting sebagai bentuk transparansi. Namun, tingginya jumlah perkara yang diselesaikan belum dengan sendirinya menjelaskan kualitas putusan, sebagaimana tingginya angka kepuasan masyarakat tetap perlu dipahami bersama metode survei dan karakter respondennya.

Konsistensi semacam ini merupakan bagian dari kejujuran intelektual. Objektivitas tidak diuji ketika statistik mendukung keyakinan kita, tetapi ketika kita tetap bersedia mempertanyakan angka yang menguntungkan dengan ketelitian yang sama seperti saat mempertanyakan angka yang merugikan.

Menjaga Kepercayaan tanpa Memusuhi Kritik

Respons paling mudah ketika sebuah profesi merasa digeneralisasi adalah membalas statistik buruk dengan statistik keberhasilan. Cara demikian memang dapat memberikan konteks, tetapi tidak selalu menyelesaikan persoalan kepercayaan.

Kepercayaan terhadap lembaga hukum tidak hanya dibentuk oleh hasil, tetapi juga oleh pengalaman mengenai proses yang adil. Kajian procedural justice menunjukkan pentingnya kesempatan untuk didengar, perlakuan yang bermartabat, netralitas pengambil keputusan, serta keyakinan bahwa kewenangan digunakan dengan niat yang dapat dipercaya (Tyler, 2006).

Karena itu, peradilan tidak perlu memusuhi statistik buruk. Pelanggaran hakim harus diumumkan, diperiksa, dan diberi konsekuensi apabila terbukti. Transparansi justru merupakan bagian dari legitimasi institusi. Yang perlu dijaga adalah cara menarik kesimpulan dari data tersebut.

Hakim yang melanggar tidak boleh berlindung di balik nama besar lembaga. Namun, hakim yang bekerja dengan integritas juga tidak selayaknya kehilangan identitas individual hanya karena ditempatkan dalam satu statistik yang sama.

Pada akhirnya, angka membantu manusia mendekati kenyataan, tetapi angka bukan kenyataan itu sendiri. Ketika konteks dilepaskan, statistik dapat berubah menjadi prasangka yang mengenakan pakaian objektivitas. Keadilan karena itu tidak hanya membutuhkan angka yang benar, tetapi juga cara membaca yang benar. (ldr)

Daftar Bacaan

Robertson, C. E., Pröllochs, N., Schwarzenegger, K., Pärnamets, P., Van Bavel, J. J., dan Feuerriegel, S. 2023. “Negativity Drives Online News Consumption.” Nature Human Behaviour, 7, 812–822.

Tversky, A., dan Kahneman, D. 1974. “Judgment under Uncertainty, Heuristics and Biases.” Science, 185(4157), 1124–1131.

Tyler, T. R. 2006. Why People Obey the Law. Princeton University Press.

Baca Juga: Regionalisasi Data Perkara, Membangun Ekosistem Peradilan Digital yang Inklusif

 

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…