Ada sesuatu yang menarik dalam cara manusia
memperlakukan angka. Pendapat dapat diperdebatkan dan kata-kata dapat dicurigai
sebagai subjektif, tetapi angka sering diterima seolah-olah merupakan kenyataan
itu sendiri. Padahal, angka bukanlah kenyataan, melainkan cara tertentu untuk
merepresentasikan kenyataan. Ketika statistik menunjukkan pengaduan,
pelanggaran, atau penyimpangan yang melibatkan hakim, angka tersebut dapat
dengan cepat berkembang dari sekadar data menjadi gambaran mengenai profesi,
bahkan ukuran keadaan peradilan secara keseluruhan. Justru karena statistik
penting, angka perlu dibaca bersama konteks, metode, populasi, dan batas
penafsirannya.
Kabar Buruk yang Lebih Mudah Diingat
Psikologi manusia tidak memperlakukan kabar
baik dan kabar buruk secara seimbang. Informasi mengenai ancaman, kegagalan,
dan penyimpangan cenderung memperoleh perhatian lebih besar daripada keadaan
yang berjalan normal. Kecenderungan ini dikenal sebagai negativity bias.
Penelitian mengenai konsumsi berita daring juga menunjukkan bahwa penggunaan
kata-kata negatif dalam judul meningkatkan kemungkinan pembaca membuka berita
(Robertson dkk., 2023).
Baca Juga: Dr Marsudin Nainggolan: Hakim, Akademisi, dan Pemikir Hukum
Dalam peradilan, kecenderungan tersebut mudah
ditemukan. Persidangan yang berlangsung tertib, putusan yang disusun dengan
sungguh-sungguh, hakim yang menolak intervensi, atau perkara yang diselesaikan
sebagaimana mestinya jarang dianggap sebagai berita. Semua itu dipandang
sebagai kewajaran. Sebaliknya, satu hakim yang melakukan pelanggaran dapat
memperoleh perhatian luas.
Di sinilah terdapat paradoks profesi publik.
Keberhasilan sering hadir sebagai sesuatu yang tidak terjadi. Pengadilan
dianggap bekerja baik ketika proses berlangsung tanpa skandal dan kewenangan
dijalankan secara independen. Karena keadaan normal tidak mengejutkan,
kegagalan seorang individu dapat terlihat jauh lebih besar daripada integritas
banyak orang yang tidak pernah menjadi berita.
Namun, negativity bias tidak boleh
digunakan untuk menyalahkan masyarakat. Kecurigaan terhadap kekuasaan merupakan
unsur penting dalam demokrasi. Hakim memegang kewenangan yang dapat menentukan
kemerdekaan, harta, keluarga, dan berbagai hak warga negara. Wajar apabila
penyimpangan dalam profesi ini memperoleh perhatian besar. Persoalan baru
muncul ketika perhatian terhadap pelanggaran berubah menjadi generalisasi
terhadap keseluruhan profesi.
Angka Menjadi Gambaran tentang Institusi
Angka mempunyai kekuatan karena menyederhanakan
kenyataan. Namun, setiap penyederhanaan mempunyai konsekuensi. Statistik
mengenai pengaduan, misalnya, belum dengan sendirinya menjelaskan berapa yang
terbukti, berapa orang yang terlibat, berapa besar populasi yang dibandingkan,
atau dalam rentang waktu apa peristiwa terjadi.
Dalam psikologi keputusan dikenal kecenderungan
memberi perhatian besar kepada angka absolut sementara konteks pembandingnya
kurang diperhatikan. Tversky dan Kahneman menunjukkan bahwa cara informasi
disajikan dapat memengaruhi penilaian manusia, bahkan ketika substansi dasarnya
sama (Tversky dan Kahneman, 1974). Karena itu, seratus peristiwa dapat terlihat
besar atau kecil bergantung pada penyebut, periode, dan konteks yang
menyertainya.
Hal tersebut tidak berarti pelanggaran dapat
diremehkan karena proporsinya kecil. Dalam profesi hakim, satu pelanggaran
serius tetap layak mendapatkan perhatian. Namun, penilaian terhadap seorang
pelanggar berbeda dari kesimpulan mengenai karakter suatu institusi. Statistik
membutuhkan bukan hanya ketepatan menghitung, tetapi juga kejujuran dalam
menafsirkan.
Membaca Statistik dengan Ukuran yang Sama
Prinsip kehati-hatian seharusnya berlaku dua
arah. Statistik mengenai pelanggaran tidak boleh langsung digunakan untuk
menyimpulkan kemerosotan peradilan, tetapi statistik positif juga tidak patut
diterima tanpa pertanyaan yang sama. Angka mengenai produktivitas penyelesaian
perkara, tingkat kepuasan masyarakat, atau capaian pelayanan tetap perlu
diperiksa melalui metode, periode, populasi, indikator, dan konteks yang
melatarbelakanginya.
Mahkamah Agung secara berkala mempublikasikan
data mengenai beban dan penyelesaian perkara, kinerja pengadilan, serta
berbagai hasil pelayanan publik. Angka tersebut penting sebagai bentuk
transparansi. Namun, tingginya jumlah perkara yang diselesaikan belum dengan
sendirinya menjelaskan kualitas putusan, sebagaimana tingginya angka kepuasan
masyarakat tetap perlu dipahami bersama metode survei dan karakter
respondennya.
Konsistensi semacam ini merupakan bagian dari
kejujuran intelektual. Objektivitas tidak diuji ketika statistik mendukung
keyakinan kita, tetapi ketika kita tetap bersedia mempertanyakan angka yang
menguntungkan dengan ketelitian yang sama seperti saat mempertanyakan angka
yang merugikan.
Menjaga Kepercayaan tanpa Memusuhi Kritik
Respons paling mudah ketika sebuah profesi
merasa digeneralisasi adalah membalas statistik buruk dengan statistik
keberhasilan. Cara demikian memang dapat memberikan konteks, tetapi tidak
selalu menyelesaikan persoalan kepercayaan.
Kepercayaan terhadap lembaga hukum tidak hanya
dibentuk oleh hasil, tetapi juga oleh pengalaman mengenai proses yang adil.
Kajian procedural justice menunjukkan pentingnya kesempatan untuk
didengar, perlakuan yang bermartabat, netralitas pengambil keputusan, serta
keyakinan bahwa kewenangan digunakan dengan niat yang dapat dipercaya (Tyler,
2006).
Karena itu, peradilan tidak perlu memusuhi
statistik buruk. Pelanggaran hakim harus diumumkan, diperiksa, dan diberi
konsekuensi apabila terbukti. Transparansi justru merupakan bagian dari
legitimasi institusi. Yang perlu dijaga adalah cara menarik kesimpulan dari
data tersebut.
Hakim yang melanggar tidak boleh berlindung di
balik nama besar lembaga. Namun, hakim yang bekerja dengan integritas juga
tidak selayaknya kehilangan identitas individual hanya karena ditempatkan dalam
satu statistik yang sama.
Pada akhirnya, angka membantu manusia mendekati
kenyataan, tetapi angka bukan kenyataan itu sendiri. Ketika konteks dilepaskan,
statistik dapat berubah menjadi prasangka yang mengenakan pakaian objektivitas.
Keadilan karena itu tidak hanya membutuhkan angka yang benar, tetapi juga cara
membaca yang benar. (ldr)
Daftar Bacaan
Robertson, C. E., Pröllochs, N., Schwarzenegger, K., Pärnamets, P.,
Van Bavel, J. J., dan Feuerriegel, S. 2023. “Negativity Drives Online News
Consumption.” Nature Human Behaviour, 7, 812–822.
Tversky, A., dan Kahneman, D. 1974. “Judgment under Uncertainty,
Heuristics and Biases.” Science, 185(4157), 1124–1131.
Tyler, T. R. 2006. Why People Obey the Law. Princeton
University Press.
Baca Juga: Regionalisasi Data Perkara, Membangun Ekosistem Peradilan Digital yang Inklusif
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI