Gema takbir kembali berkumandang menyimbolkan datangnya Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Dalam perayaannya selalu ada tradisi yang mengiringi. Salah satunya yang diajarkan dalam Islam adalah makan dan minum sedikit sebelum berangkat menunaikan shalat Idul Fitri. Hal ini menjadi simbol bahwa hari itu adalah hari berbuka dan puasa telah berakhir.
Ketupat dan Opor Ayam adalah dua menu ikonik yang sering disajikan saat perayaan
Hari Raya Idul Fitri. Bukan tanpa alasan, ada makna filosofis dan budaya yang terkandung dalam setiap bungkus ketupat serta sajian opor ayam tersebut.
Baca Juga: Judi Sabung Ayam Usai Pemakaman Nenek Mertua, Pelaku Dibui 3 Bulan
Makna ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa dipercaya merupakan singkatan dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan dan juga kula ndherek lepat atau saya mengakui kesalahan. Ketupat menjadi simbol kejujuran dan pengakuan kesalahan. Dua hal yang menjadi awal dari hadirnya Keadilan.
Pasangan ketupat yakni Opor juga memiliki makna yang serupa. Opor yang terbuat dari santan memiliki arti pangapunten atau permintaan maaf. Karena biasanya disantap bersama keluarga, Opor juga dapat dimaknai sebagai simbol kebersamaan dan keseimbangan.
“Kuah santan” yang menyatu melambangkan harmoni, sementara “dimakan bersama”menunjukkan kebersamaan tanpa perbedaan. Sama halnya dengan Keadilan. Keadilan bukan hanya soal hukuman tapi juga keseimbangan dan harmoni sosial, semua orang diperlakukan setara dalam kebersamaan.
Keadilan yang utuh dapat diibaratkan bagai sepiring ketupat dan Opor. Kombinasi keduanya secara simbolik mengandung makna bahwa Keadilan itu tidak hanya soal hukum di pengadilan, tapi juga tentang
mengakui kesalahan, memaafkan, dan menjaga keseimbangan dalam hubungan antar manusia.
Sepiring Ketupat dan Opor Ayam menggambarkan hidupnya budaya keadilan restoratif dalam tradisi di Hari Raya Idul Fitri. Keadilan restoratif mempersyaratkan pelaku untuk terlebih dahulu mengakui kesalahan secara jujur. Sejalan dengan makna ngaku lepat.
“Tidak ada pemulihan tanpa kejujuran”, sebuah kutipan yang Penulis baca di tengah-tengah hari terakhir berpuasa.
Lantas, apa kaitannya keadilan restoratif dengan Opor? Membaca kembali yang sudah dijelaskan sebelumnya, Opor adalah simbol kebersamaan dan keseimbangan (harmoni sosial). Sama halnya dengan keadilan restoratif, tujuan utamanya bukan menghukum tetapi memulihkan hubungan antara pelaku, korban, dan masyarakat.
“Yang dicari adalah kembali rukun, bukan sekadar menang-kalah”, lanjut bunyi kutipan tersebut.
Baca Juga: Menjelajahi Keindahan Tulungagung: Destinasi Wisata Dan Kuliner Untuk Warga Peradilan Yang Mudik
Dari sepiring Ketupat dan Opor, kita belajar bahwa Keadilan bukan hanya soal benar atau salah, tapi tentang keberanian mengakui kesalahan dan kesediaan untuk memulihkan hubungan.
Pada akhirnya, Keadilan tak selalu hanya ada di pengadilan terkadang ada di sepiring Ketupat dan Opor. Yuk! belajar adil, dimulai dari meja makan: Ketupat dan Opor. (al/ldr)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI