Cari Berita

Ketua PT Banten Suwidya: Puasa Sebagai Madrasah Integritas Aparatur Peradilan

Tim Dandapala - Dandapala Contributor 2026-02-26 18:30:03
Dok. Ist

Serang, Banten - Pengadilan Tinggi (PT) Banten menyelenggarakan buka puasa bersama yang bertempat di Aula PT Banten (26/2/2026). Hadir dalam giat tersebut KPT, WKPT, Para Hakim Tinggi, Pimpinan PN sewilayah PT Banten, hingga Para Aparatur Peradilan PT Banten. 

“Kegiatan ini bertujuan memperkuat nilai spiritualitas, moral, integritas, dan rasa kebersamaan antar warga peradilan di wilayah PT Banten”, ucap Wakil Ketua PT Banten, Moh. Muchlis. 

Dalam sambutannya Ketua PT Banten, Suwidya menyampaikan Ramadhan sebagai kunci penguatan integritas dan profesionalisme warga peradilan. “Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual. Ramadhan adalah madrasah penguatan dan pembentukan karakter. Ia mendidik kejujuran, pengendalian diri, disiplin, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan kita”, ucap Suwidya.

Baca Juga: Catatan Sejarah Hukum: Pengadilan Perceraian di Kesultanan Banten

Puasa Melatih Kejujuran, Fondasi Integritas

Lebih lanjut disampaikan Suwidya, tujuan puasa adalah takwa, dalam konteks aparatur peradilan takwa adalah pondasi integritas. Puasa adalah ibadah yang sangat pribadi. Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali dirinya dan Allah. Inilah latihan kejujuran yang paling murni.

“Sebagai warga peradilan, mungkin tidak semua pekerjaan kita diawasi langsung. Ingat, Allah Maha Mengawasi. Integritas bukan soal ada atau tidaknya pengawasan. Kita tidak akan menyimpang, walau tidak ada yang melihat”, tegas Ketua PT Banten tersebut.

Puasa Melatih Pengendalian Diri, Benteng Profesionalisme

Ketua PT Banten juga menyampaikan dalam bekerja di lembaga peradilan, kita berhadapan dengan berbagai tekanan, seperti tekanan perkara, waktu, emosi para pihak, bahkan mungkin godaan kepentingan tertentu.

“Puasa mengajarkan kita menahan lapar, haus, dan amarah. Jika terhadap kebutuhan biologis saja kita mampu menahan diri, maka seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari penyalahgunaan wewenang, konflik kepentingan, maupun sikap tidak professional. Sebab profesionalisme lahir dari pengendalian diri”, ucapnya.

Disiplin Waktu, Cerminan Etos Kerja

Lebih lanjut disampaikannya, Ramadhan mendidik kita disiplin sahur tepat waktu, berbuka tepat waktu, shalat tepat waktu, maupun Tarawih dengan keteraturan.

“Disiplin ibadah harus berlanjut menjadi disiplin kerja. Mulai dari sidang tepat waktu, putusan tepat waktu, administrasi tertib, layanan publik cepat dan transparan. Ketepatan waktu adalah bentuk penghormatan kepada pencari keadilan”, Suwidya.

Baca Juga: Ketua PT Kaltim: Seluruh Capaian Organisasi, Sinergitas Seluruh Aparatur

Dari Takwa Menuju Integritas Institusional

Menurut Suwidya, takwa bukan hanya pada individu, tetapi akan berdampak pada integritas institusinya. Jika setiap pribadi bertakwa, maka lembaga akan berintegritas. (fac)

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…